RADAR SURABAYA - Sejarah panjang kawasan Ampel Surabaya menyimpan satu nama kuno yang kini nyaris tak terdengar: Ampel Denta.
Nama ini pernah menjadi penanda penting wilayah tempat Sunan Ampel menyebarkan dan memperkenalkan Islam melalui pondok pesantren serta Masjid Agung Ampel pada pertengahan abad ke-15 M.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono menuturkan, Ampel Denta merupakan nama awal yang memiliki nilai historis tinggi dalam perjalanan peradaban Islam di Surabaya.
“Dulu, pernah ada nama Ampel Denta. Itu adalah nama kuno untuk wilayah di mana Sunan Ampel menyebarkan dan memperkenalkan Islam melalui pondok pesantren dan Masjid Agung Ampel pada pertengahan abad ke-15,” ujarnya, Minggu (8/3).
Menurut Nanang, seiring berkembangnya kawasan tersebut, justru muncul beragam nama kampung dengan embel-embel “Ampel”.
Namun ironisnya, nama Ampel Denta sendiri perlahan lenyap dari penanda administratif wilayah.
“Ketika di daerah Ampel Denta itu berkembang nama-nama Ampel yang variatif, justru nama Ampel Denta-nya lenyap. Tidak ada nama kampung di Kelurahan Ampel yang bernama Ampel Denta,” jelasnya.
Padahal, lanjut Nanang, nama Ampel Denta memiliki resonansi sejarah yang tidak hanya menggema di Nusantara, tetapi juga menembus mancanegara.
Kawasan Ampel menjadi magnet jutaan pengunjung dan peziarah setiap tahun, yang datang untuk berziarah ke makam Sunan Ampel sekaligus menikmati wisata religi dan kuliner di Surabaya.
“Dampaknya, tingkat kunjungan wisatawan dan peziarah mencapai jutaan pengunjung. Mereka ini perlu mendapat layanan yang baik, minimal layanan informasi tentang Ampel itu sendiri,” tegas Nanang.
Ia menambahkan, pengunjung tidak hanya datang untuk beribadah dan berziarah, tetapi juga berbelanja dan menikmati wisata kuliner khas Timur Tengah di kawasan tersebut.
Namun, tanpa penguatan informasi sejarah, nilai edukasi dari kunjungan itu bisa terabaikan.
“Jangan sampai semakin banyaknya pengunjung ke Ampel, justru nama Ampel Denta menjadi seperti sebuah jarum dalam tumpukan jerami,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, penyediaan informasi sejarah yang memadai menjadi kebutuhan mendesak.
Mulai dari papan informasi, pusat dokumentasi, hingga gagasan pembangunan museum yang merekam perjalanan peradaban Ampel Denta.
Penataan tata ruang kawasan juga dinilai penting sebagai sarana edukasi pengunjung. Sejarah Ampel Denta, kata Nanang, tidak hanya berupa benda (tangible) seperti bangunan dan artefak, tetapi juga nilai-nilai budaya dan tradisi (intangible) yang hidup di tengah masyarakat.
“Upaya ini termasuk menjaga dan melestarikan nama Ampel Denta sebagai cikal bakal Kampung Ampel di wilayah Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya,” pungkasnya.
Dengan penguatan identitas sejarah tersebut, kawasan Ampel diharapkan tidak sekadar menjadi destinasi wisata religi, tetapi juga ruang belajar terbuka tentang jejak awal peradaban Islam di Kota Pahlawan. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa