RADAR SURABAYA - Kawasan Kembang Jepun, Surabaya, pada masa Hindia Belanda dikenal sebagai salah satu pusat keuangan paling sibuk di Asia Tenggara.
Dalam satu ruas jalan, berdiri berdempetan sejumlah bank internasional dari berbagai negara.
Beberapa bank besar yang pernah beroperasi di Kembang Jepun antara lain Bank of China, Escompto Maatschappij, Bank of Taiwan, hingga Unie Bank voor Nederland en Kolonien.
Selain lembaga perbankan, kawasan ini juga ada kantor perusahaan pelayaran internasional seperti Java–China–Japan Lijn.
Maya Sari dari komunitas Jejak Tempo Doeloe menjelaskan, konsentrasi bank di satu koridor bukanlah kebetulan, melainkan strategi ekonomi kolonial.
Pada awal abad ke-20, Kembang Jepun adalah jantung perdagangan internasional Surabaya.
“Pada awal abad ke-20, Kembang Jepun adalah jantung perdagangan internasional Surabaya. Kedekatannya dengan pelabuhan membuat bank-bank asing membuka kantor di lokasi yang sama agar memudahkan transaksi devisa, kredit ekspor-impor, dan pengiriman uang lintas negara,” ujarnya.
Menurut Maya, keberadaan bank dari Belanda, Tiongkok, dan Jepang yang berdiri berdampingan juga mencerminkan persaingan pengaruh ekonomi di kawasan Asia saat itu.
“Dalam satu pandangan saja orang bisa melihat bank kolonial Belanda, bank nasional Tiongkok, dan bank milik pemerintah Jepang. Ini menunjukkan Surabaya sudah menjadi kota kosmopolitan dan modern sebelum kemerdekaan,” katanya.
Kini, sebagian besar gedung bank tersebut telah berubah fungsi atau hilang akibat perkembangan kota.
Hanya beberapa bangunan kolonial yang masih bertahan, seperti bekas kantor Escompto Maatschappij yang kini menjadi gedung bank nasional.
Meski wujud fisiknya banyak yang lenyap, jejak Kembang Jepun sebagai distrik finansial internasional masih dapat ditelusuri melalui arsip foto, peta lama, dan dokumentasi sejarah komunitas pecinta heritage.
Maya berharap kawasan bersejarah ini mendapat perhatian lebih sebagai bagian penting dari identitas Surabaya.
“Dulu di sinilah pusat perputaran uang dunia di kota ini. Cerita itu penting agar generasi sekarang tahu bahwa Surabaya pernah memiliki kawasan keuangan kelas internasional,” tuturnya. (rek/opi)
Editor : Nofilawati Anisa