Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Puasa Tak Sekadar Menahan Lapar, Tapi Menjaga Lisan, Hati, dan Perbuatan

Muhammad Firman Syah • Minggu, 22 Februari 2026 | 11:03 WIB

Ilustrasi Makna Puasa : Umat Muslim menjalankan ibadah Ramadhan.
Ilustrasi Makna Puasa : Umat Muslim menjalankan ibadah Ramadhan.

Radar Surabaya - Puasa dalam Islam bukan hanya menahan diri dari makan dan minum. Ibadah Ramadan juga menjadi proses penyucian jiwa yang menuntut pengendalian lisan, hati, serta perbuatan. Momentum ini menghadirkan ruang refleksi bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas moral, sosial, dan spiritual secara menyeluruh.

Cendekiawan Muslim Yusuf al-Qaradawi dalam sejumlah karyanya menyebut Ramadan sebagai madrasah ruhani. Melalui disiplin dan pengendalian hawa nafsu, puasa membentuk karakter takwa yang berdampak bukan hanya secara personal, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Salah satu aspek utama dalam puasa adalah menjaga lisan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan hausnya” (HR Bukhari). Dalam riwayat Abu Hurairah yang tercantum dalam Sahih Muslim No 1151, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa ketika seseorang dicaci atau diajak bertengkar saat berpuasa, hendaknya ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Baca Juga: Tetap Bugar Saat Ramadan, Ini Rekomendasi Olahraga yang Aman Dilakukan Saat Berpuasa

Pesan tersebut menegaskan bahwa puasa adalah tameng, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari ucapan kotor, kebohongan, ghibah, dan amarah. Ahli linguistik dan penggagas teori general semantik, Alfred Korzybski, menyebut bahasa sebagai pengikat waktu dan pengalaman manusia. Tutur kata membentuk kejiwaan individu sekaligus memengaruhi struktur sosial.

Dalam konteks modern, ucapan yang terjaga berkontribusi pada terciptanya kepercayaan sosial. Ekonom Daron Acemoglu dan James A. Robinson menekankan bahwa masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi cenderung lebih stabil secara ekonomi dan sosial. Artinya, menjaga lisan tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga menjadi investasi sosial.

Selain lisan, menjaga hati juga menjadi inti puasa. Dalam Al-Qur’an surat Asy-Syams ayat 9–10 disebutkan bahwa beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah yang mengotorinya. Pengendalian hati berarti menahan iri, dengki, serta meluruskan niat dalam setiap tindakan.

Baca Juga: Keutamaan Puasa Ramadan Hari Keempat, Allah Janjikan Surga Khuld

Teori “nudge” yang diperkenalkan Richard Thaler dan Cass Sunstein menjelaskan pentingnya kontrol diri dalam pengambilan keputusan demi kesejahteraan jangka panjang. Dalam Ramadan, pengendalian tersebut tercermin pada pola konsumsi yang lebih bijak, pengelolaan emosi di tempat kerja, hingga keputusan ekonomi keluarga yang lebih rasional.

Selanjutnya, menjaga perbuatan menjadi bukti konkret keberhasilan puasa. Kejujuran, disiplin, serta kepedulian sosial merupakan indikator akhlakul karimah yang diasah selama Ramadan. Tradisi berbagi takjil, peningkatan zakat, infak, dan sedekah menjadi wujud nyata penguatan solidaritas sosial.

Ilmuwan politik Robert D. Putnam menyebut modal sosial sebagai jaringan dan norma yang meningkatkan efisiensi masyarakat. Di berbagai daerah di Indonesia, Ramadan menjadi momentum mempererat kebersamaan dan kepedulian antarwarga.

Baca Juga: Jadwal Berbuka Puasa Ramadan 22 Februari 2026 untuk Wilayah Surabaya dan Sekitar

Pada akhirnya, tujuan puasa sebagaimana termaktub dalam QS Al-Baqarah ayat 183 adalah mencapai derajat takwa. Derajat tersebut lahir melalui pembiasaan berkata baik, berpikir jernih, dan bertindak benar.

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah proses pembentukan karakter. Dari lisan yang terjaga, hati yang bersih, hingga perbuatan yang mulia, semuanya bermuara pada satu tujuan, mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadaban. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#takwa #harmoni sosial #makna puasa #kualitas moral #ramadan