RADAR SURABAYA - Di era kolonial Belanda banyak monumen yang dibangun di Surabaya. Salah satunya adalah monumen Bali yang ada di depan bekas barak Batalyon Infanteri XII Surabaya yang kini menjadi gedung Mapolrestabes Surabaya.
Namun keberadaan monumen tersebut dihancurkan sejak kedatangan Jepang di Surabaya.
Selain monumen tersebut juga ada beberapa monumen peninggalan Belanda yang dihancurkan pada masa pendudukan Jepang.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengatakan, monumen Bali yang ada di depan bekas barak Batalyon Infanteri XII Surabaya didirikan 4 September 1868. Monumen didirikan pasca Ekspedisi Bali.
Ekspedisi Bali sendiri dilakukan pasca perang Puputan Jagaraga dan Puputan Kusamba di Pulau Bali 1868.
Pada ekspedisi Bali pemerintah kolonial berupaya menaklukan kembali pemerintahan adat Bumi Putera Bali.
Namun saat itu gagal dan menimbulkan korban jiwa dari pihak Belanda.
"Monumen (monumen Bali) dibongkar pemerintahan Jepang saat menguasai Indonesia tahun 1942-1945," ucapnya kepada Radar Surabaya.
Dia menjelaskan, Jepang sebagai pemenang perang atau penguasa Hindia-Belanda memusnahkan simbol-simbol pemerintahan yang kalah di Surabaya dan di seluruh Hindia-Belanda.
"Otomatis simbol-simbol pemerintahan yang kalah akan dihilangkan, dirobohkan atau diganti sebagai bentuk penghancuran dominasi," sebutnya.
Pria yang akrab disapa Wawan menyebutkan di Surabaya ada beberapa monumen yang dihancurkan pada era Jepang.
Di antaranya monumen Bali, tugu atau monumen Alun-Alun Contong yang berbentuk kerucut juga dihancurkan.
"Termasuk juga monumen penerbangan di Taman Apsari dan Darmo Boulevard (Jalan Darmo). Pemusnahan tidak di Surabaya saja, hampir di seluruh Hindia-Belanda, tapi sebagian ada yang tidak sempat dihancurkan," terangnya.
Bekas lokasi monumen Bali sendiri di Mapolrestabes Surabaya kini menjadi lapangan apel. (rus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa