RADAR SURABAYA - Bangunan utamanya tampak menjulang tinggi dan masih berdiri kokoh.
Di bagian dinding depan atas terdapat tulisan ANNO 1913. Beberapa bagian atapnya sudah rusak termakan usia.
Bangunan dilengkapi dengan jendela besar yang menandakan bangunan peninggalan era kolonial.
Bangunan yang berdiri di kawasan sisi barat eks Stasiun Wonokromo Kota itu merupakan depo trem Wonokromo.
Pemerhati sejarah Kereta Api Navy Eka Pattiruhu mengatakan, depo trem Wonokromo dibuka tahun 1913. "Ini depo induk lokomotif trem di Surabaya," ujarnya kepada Radar Surabaya, Selasa (21/10).
Navy menambahkan, depo Wonokromo merupakan penerus depo Grudo (kawasan Dinoyo). Awalnya depo Grudo milik Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) lebih dahulu ada.
Depo lokomotif dan bengkel Grudo mulai beroperasi bersamaan pembukaan stasiun Grudo pada 15 April 1890.
Setelah berjalannya waktu kemudian ada wacana depo Grudo akan ditutup.
Kemudian pada tahun 1910 mulai direncanakan. Pada tahun 1911 mulai pembangunan fisiknya dan diputuskan Wonokromo akan jadi penerus Grudo.
Semua bangunan depo, bengkel dan stasiun sentral akan dipindah ke Wonokromo. Namun realisasinya yang dipindah depo dan stasiunnya.
Untuk depo Wonokromo mulai dibuka tahun 1913. Sementara stasiun Wonokromo Kota tahun 1916.
Sedangkan untuk bengkelnya masih ada di Grudo sampai tahun 1939. Setelah itu bengkel di Grudo ditutup OJS sendiri. Kemudian bengkel dipindah ke Wonokromo.
"Depo trem ini untuk garasinya trem. Untuk garasi lokomotif atau ketika sudah stop operasi satu hari akan stop atau berhenti disitu. Nanti pagi hari mulai lagi keluar," jelasnya.
Di depo Wonokromo terdapat empat jalur. Depo Wonokromo memiliki bangunan utama cukup besar.
Bangunan depo trem Wonokromo itu mulai tidak beroperasi setelah trem uap berhenti tahun 1978.
Kini keberadaan depo Wonokromo fungsinya sudah berubah. Bangunan depo dipakai tempat parkir mobil dan gerobak dagangan. (rus)
Editor : Nofilawati Anisa