Radar Surabaya — Emas selama ini dikenal sebagai logam mulia bernilai tinggi yang menjadi simbol kekayaan dan daya tarik manusia selama ribuan tahun. Namun, di balik kilauannya, tersimpan kisah luar biasa tentang asal-usulnya di alam semesta. Sebuah studi ilmiah terbaru mengungkap bahwa emas di Bumi tidak terbentuk dari proses geologi internal, melainkan hasil dari tabrakan meteorit purba yang menghantam planet ini ratusan juta tahun setelah Bumi tercipta.
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Bristol dan dipublikasikan dalam jurnal Nature itu menyebut bahwa secara teori, emas dan platinum seharusnya tidak terdapat di kerak Bumi. Kedua logam tersebut semestinya telah ikut tenggelam ke inti planet bersama besi cair pada masa awal pembentukan Bumi.
“Selama pembentukan Bumi, besi cair tenggelam ke pusat planet untuk membentuk inti. Besi cair ini tidak memasuki perut Bumi sendirian, tapi membawa serta seluruh logam mulia,” tulis laporan penelitian tersebut.
Dalam studi tersebut, para ilmuwan meneliti batuan kuno dari Greenland yang berusia hampir 4 miliar tahun, dianggap sebagai sisa material dari fase awal pembentukan planet sebelum Bumi dihantam meteorit. Melalui pengukuran isotop tungsten dengan presisi tinggi, para peneliti menemukan bahwa komposisi logam mulia di Bumi saat ini merupakan hasil akumulasi material dari tabrakan meteorit, bukan berasal dari proses alami internal.
“Tabrakan meteorit ini kemudian melapisi Bumi dengan kandungan emas, platinum, dan unsur-unsur lainnya lama setelah rekan asli mereka menghilang ke inti planet ini,” ungkap para peneliti.
Setelah logam-logam tersebut tersebar di kerak Bumi akibat benturan meteorit, proses geologi selama jutaan tahun selanjutnya mengonsentrasikannya di area tertentu. Daerah-daerah inilah yang kini menjadi sumber utama tambang emas dan logam mulia di berbagai belahan dunia.
Temuan ini memperkuat teori bahwa sebagian besar unsur penting di Bumi berasal dari luar angkasa. Dengan demikian, planet ini terbentuk dari hasil akumulasi material kosmik dalam rentang waktu yang sangat panjang dan kompleks. (mel/fir)
Editor : M Firman Syah