RADAR SURABAYA - Jalan Mastrip Karangpilang Surabaya sudah ada sejak era kolonial. Jalan tersebut dahulu disebut Karangpilang.
Sementara di sebelah timurnya terdapat Jalan Gunungsari.
Jalan Mastrip saat ini menjadi jalan sibuk di kawasan Surabaya Selatan.
Jalan ini menjadi akses kendaraan besar dari pabrik atau pergudangan ke arah tol maupun sebaliknya.
Selain itu Jalan Mastrip juga menjadi akses masuk dan keluar kota Surabaya dari sisi selatan.
Jalan Mastrip belakangan juga dikenal sebagai jalur tengkorak. Sebab sering terjadi kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa dan luka.
Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan mengatakan, awalnya jalan tersebut bernama Karangpilang dan Gunungsari.
Pada akhir bulan November hingga awal Desember 1945 saat meletus perang Surabaya, di kawasan itu menjadi medan pertempuran untuk menahan gerak laju tentara Inggris.
Para pejuang dari TKR pelajar atau TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang berkedudukan di Gunungsari, kawasan perbukitan dan perkampungan sekitar Gunungsari hingga Karangpilang terus mengerahkan kekuatan untuk menggempur pasukan Inggris yang berisikan orang-orang India dan Nepal.
"Dalam peristiwa heroik tersebut empat pasukan TKR pelajar atau TRIP yang berusia sangat muda gugur sebagai Kusuma Bangsa. Demi mengenang perjuangan para pahlawan muda itu pemerintah Indonesia Provinsi Jawa Timur menyematkan nama Mastrip di kawasan Karangpilang, yang sekarang kita kenal dengan nama Jalan Raya Mastrip," ujarnya kepada Radar Surabaya.
Dijelaskan Wawan, Mastrip sendiri berasal dari panggilan "mas" dan singkatan TRIP. Mas adalah nama panggilan untuk pria beranjak dewasa, sebab dahulu pasukan TRIP memang didominasi oleh anak-anak muda yang masih pelajar.
"Selain nama jalan, di kawasan itu juga dibangun monumen perjuangan TRIP, letaknya di halaman SPBU di Jalan Raya Mastrip nomor 237, Karangpilang Surabaya," terangnya. (rus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa