Radar Surabaya- Kecerdasan buatan (AI) kini makin sering dipakai pencari kerja. Dari menyusun surat lamaran hingga menyesuaikan CV dengan deskripsi pekerjaan. Namun, para pakar karier mengingatkan: terlalu bergantung pada AI justru bisa merugikan.
Berdasarkan Market Trend Report 2025 dari Career Group Companies, 65 persen kandidat mengaku memanfaatkan AI dalam proses melamar kerja. Padahal, sistem ini masih kerap menghasilkan informasi keliru hingga menambahkan detail fiktif.
”Saat AI diminta menyesuaikan resume, sering kali ia menyisipkan pengalaman yang tidak sesuai kenyataan,” ujar Jen DeLorenzo, pelatih karier dan pendiri The Career Raven, Kamis (18/9).
Hal senada disampaikan perekrut Jessye Kass Karlin. Menurut dia, lamaran buatan AI mudah dikenali karena formatnya seragam dan kaku.
"Yang membuat kandidat menonjol tetap kejujuran dan ciri khas personal,” tegasnya.
Keduanya mencontohkan kasus lucu, ketika jawaban pelamar justru berbunyi, "Sebagai kecerdasan buatan, saya tidak memiliki emosi.”
Para pakar sepakat, AI sebaiknya hanya dipakai sebagai alat bantu memperbaiki bahasa. Bukan sepenuhnya menggantikan usaha pelamar. Resume dan jawaban autentik dinilai lebih meyakinkan bagi perekrut. (dta)
Editor : M Firman Syah