RADAR SURABAYA - Di tengah gegap gempita pembangunan kota, Surabaya ternyata masih menyimpan warisan sejarah yang hidup dalam diam.
Salah satunya adalah Kampung Jagalan, sebuah kawasan tua yang terletak diapit dua aliran sungai besar yaitu Kalimas dan Kali Undaan.
Kampung ini bukan sekadar permukiman padat, tetapi menyimpan banyak cerita masa lalu yang jarang diketahui publik.
Nur Setiawan, pegiat sejarah Surabaya yang akrab disapa Wawan, menjelaskan bahwa nama "Jagalan" sendiri memiliki dua versi asal usul yang masih dipercakapkan warga.
“Versi pertama berasal dari kata 'jagal', karena konon kampung ini dulunya adalah tempat penyembelihan hewan ternak untuk kebutuhan masyarakat sekitar, terutama bagi lingkungan keraton Surabaya,” ujar Wawan.
Menurut Wawan, secara toponimi, lokasi Jagalan berada tepat di sisi timur bekas Keraton Surabaya.
Hanya dipisahkan oleh Kalimas dan berseberangan langsung dengan Pasar Besar.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Jagalan dahulu berperan penting sebagai pusat pasokan daging segar bagi kalangan keraton dan masyarakat sekitarnya.
Namun, versi lain yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa nama Jagalan berasal dari peristiwa tragis.
Dalam cerita lisan warga, kawasan ini pernah menjadi lokasi pembantaian besar-besaran saat Keraton Surabaya ditaklukkan oleh pasukan Mataram Islam dari Jawa Tengah.
“Ada versi folklore yang menyebutkan bahwa nama Jagalan merujuk pada banyaknya korban jiwa saat pengepungan keraton. Bahkan hingga kini warga masih mengenang sosok legendaris bernama Mbah Umbul, yang dianggap sebagai tokoh awal perintis kampung ini. Makamnya masih ada di salah satu sudut kampung,” imbuh Wawan.
Keunikan Kampung Jagalan tak hanya berhenti pada cerita sejarahnya.
Secara administratif, wilayah ini sudah tercatat sejak abad ke-19, bahkan kemungkinan lebih awal.
Banyak rumah kuno bergaya arsitektur kolonial yang masih berdiri kokoh, menambah nuansa tempo dulu yang kental terasa.
Tak hanya menjadi saksi sejarah, kampung ini juga dikenal sebagai pusat industri lokal.
Salah satu yang menonjol adalah sebuah pabrik benang lawas yang telah beroperasi lebih dari setengah abad dan masih memasarkan produknya hingga kini.
Keberadaan pabrik ini menjadi bukti bahwa Jagalan pernah, dan masih menjadi bagian dari denyut ekonomi lokal yang mendunia.
“Kampung Jagalan adalah salah satu mosaik penting dari sejarah urban Surabaya. Tempat ini bukan hanya soal bangunan tua, tapi juga tentang identitas, memori kolektif, dan keberagaman masyarakat yang tinggal di dalamnya,” tutup Wawan.
Dengan keberadaan berbagai suku dan etnis yang menetap berdampingan di kawasan ini, Kampung Jagalan tak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga mencerminkan wajah toleransi dan keberagaman khas Surabaya. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa