RADAR SURABAYA - Sebuah rumah di Jalan Pabean Sayangan Nomor 14 RT 07, Surabaya, menyimpan kisah heroik perjuangan Arek Suroboyo melawan Agresi Sekutu tahun 1945.
Bangunan yang kini telah mengalami perubahan total tersebut, dulunya menjadi tempat penampungan warga yang mengungsi saat Kota Surabaya dibombardir.
Rumah tersebut merupakan tempat tinggal Abdul Wahab Saleh, Siti Khanifah, dan beberapa adik Abdul Majid, Siti Khadijah, Siti Chanisah, dan Abdul Muntolib.
Mereka adalah putra-putri dari pasangan H. Saleh dan Hj. Maemunah Sarah.
Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, mengungkapkan kekagumannya terhadap Hj. Maemunah, pemilik rumah.
Maemunah memiliki kesadaran dan jiwa patriot yang luar biasa.
"Saat Kota Surabaya dibombardir sekutu, dengan berani membuka rumahnya untuk menampung para pengungsi yang tak sempat menyelamatkan diri. Tindakannya ini sangat berisiko, mengingat tidak semua orang di sekitarnya memiliki semangat patriotisme yang sama. Bahkan ada yang bermuka dua," ujar sejarawan yang akrab disapa Wawan itu.
Keberanian Maemunah tidak berhenti sampai di situ.
Wawan juga menyebut Maemunah rela menyediakan segala kebutuhan para pejuang, mulai dari makanan, pakaian, hingga perlengkapan mobil.
"Ini sungguh luar biasa, mengingat Bu Maemunah sendiri hanya seorang penjual kue di pasar," tuturnya.
Sayangnya kini tidak banyak warga Surabaya Utara, khususnya warga Pabean, yang mengetahui sejarah penting yang tersimpan di balik rumah tersebut.
"Sejarah ini perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar semangat perjuangan para pahlawan tetap hidup di hati kita," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa