RADAR SURABAYA - Pegiat sejarah kota Surabaya Nanang Purwono mengatakan, pernah ada alun- alun di kawasan Kemayoran, Surabaya.
Dalam peta tahun 1940-an, di lahan, yang sekarang berdiri bangunan sekolahan SMPN 2 Surabaya dan Ta’miriyah Surabaya, adalah lokasi berdirinya alun-alun Surapringga.
“Namanya alun-alun, yang secara tata ruang, konsepnya mengacu tata ruang klasik kota-kota Jawa seperti konsep di Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bangil dan lainnya,” kata Nanang, Selasa (12/8).
Bagaimana dengan Surabaya? Nanang menjelaskan, Surabaya pernah memiliki alun-alun sebagai bentuk nyata pemerintahan klasik di bawah administrasi Mataram.
Bukan di kawasan Simpang, yang sekarang kita kenal dengan Alun-Alun Surabaya.
“Tapi di kawasan Kemayoran, tepatnya dengan penanda keberadaan Masjid Kemayoran,” tegasnya.
Nanang menyebut, di situlah komplek pusat pemerintahan klasik Surapringga (Surabaya).
Di belakang masjid masih ada kampung Kauman, yang bernama Kemayoran Kauman.
Di Timur masjid ada lapangan Alun-Alun Surapringga dan di Timur alun-alun ada rumah Bupati Surapringga, yang juga disebut kabupaten Surapringga, yang pada 1928 dibongkar dan dibangun kantor Pos.
“Selain jejak tata ruang dan bangunan, di kawasan ini, di era pemerintahan Hindia Belanda, ada nama Templestraat. Jalan ini membujur utara-selatan, yang berada di timur lapangan alun alun. Sekarang jalan Templestraat ini bernama Jalan Kepanjen,” urainya.
Di jalan yang membujur utara-selatan di Timur lapangan alun-alun dinamakan Temple Straat.
Keberadaan jalan ini, Temple Straat, menunjukkan bagian dari keberadaan Masjid Raudhatul Musyawarah Surapringga, yang berada dalam satu tata ruang ke-kabupaten-an Surapringga.
“Apalagi dalam peta 1940-an dengan jelas bahwa lapangan, yang sekarang berdiri SMPN 2 dan Ta’miriyah, tertulis alun-alun,” jelas Nanang. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa