Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

SURABAYAPEDIA: Nama Surabaya Dikenal sejak Kerajaan Majapahit

Mus Purmadani • Jumat, 11 Juli 2025 | 20:00 WIB
SEJARAH: Satu satunya sumber sejarah tertua, yang dengan jelas dan otentik menyebut nama Surabaya (Curabhaya) adalah prasasti Canggu.
SEJARAH: Satu satunya sumber sejarah tertua, yang dengan jelas dan otentik menyebut nama Surabaya (Curabhaya) adalah prasasti Canggu.

RADAR SURABAYA - Sejauh ini belum ditemukan naskah kuno yang secara khusus menjelaskan tentang Surabaya.

Tetapi ada catatan Raja Hayam Wuruk terkait dengan perjalanannya yang melalui Surabaya.

Hal tersebut disampaikan pegiat sejarah Kota Surabaya Nanang Purwono, Kamis (10/7).

Menurutnya, catatan tertua adalah pada prasasti Canggu (1358) dan catatan berikutnya pada Manuskrip Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca (1365).

"Prasasti Canggu ini ditulis pada sebuah lempeng tembaga dalam aksara Jawa Kuna atau biasa disebut Aksara Kawi. Pun demikian dengan Manuskrip Negarakertagama yang ditulis pada media daun lontar. Manuskrip ini ditulis dalam aksara Bali yang berbahasa Jawa Kuna," katanya.

Surabaya di Kitab Negarakertagama ditulis dengan aksara Bali dan bahasa Jawa Kuno dalam bentuk kakawin.

Naskah ini ditulis di atas media lontar yang terdiri dari 44 lembar. Di setiap lembar berisi empat baris tulisan.

"Pada kitab itu, nama Surabaya disebut. Nama Surabaya ditulis dengan bunyi Syurabhaya yang secara harfiah tertulis Surabaya," jelasnya.

Nanang mengatakan Syurabhaya dan Surabaya memiliki perbedaan makna.

Syurabhaya berarti berani menghadapi bahaya, sedangkan Surabaya berarti dewa buaya.

Penulisan Syurabhaya ini muncul dalam konteks perjalanan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit pada tahun 1365.

"Kitab ini mencatat kunjungan raja ke berbagai tempat, termasuk Surabaya, yang pada saat itu masih merupakan sebuah desa di pinggir sungai," ungkapnya.

Lebih lanjut Nanang mengatakan Catatan Mpu Prapanca ini berangka 1365.

Sebetulnya catatan yang menyebut nama Syurabhaya (Surabaya) ini berkorelasi dengan Prasasti Canggu yang berangka tahun 1358.

"Kisah ini menunjukkan bahwa nama Surabaya telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Berarti Surabaya sebagai sebuah desa di tepian sungai (Naditira Pradeca) telah ada. Itulah Syurabhaya Kuna yang keberadaannya menempel pada sungai. Sekarang di Surabaya modern, Kalimas (kali Surabaya) berada atau mengalir di dalamnya," jelasnya.

Nanang menambahkan pada masa itu, Majapahit, masyarakatnya, berbicara menggunakan bahasa Jawa Kuna dan menulis menggunakan aksara Jawa Kuna (Kawi).

"Pada pergantian masa dari abad 14 ke abad berikutnya, terjadi perubahan dan perkembangan aksara. Dalam perkembangannya, aksara, yang digunakan tidak lagi Jawa Kuna atau Kawi, tetapi Jawa Baru atau Carakan Jawa," pungkasnya. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#nama #Prasasti Canggu #surabaya #negarakertagama #kakawin #manuskrip #raja hayam wuruk #Pegiat #naskah kuno #sejarah