Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Siola: Toserba Tempat Belanja Kalangan Elite di Surabaya di Era Hindia Belanda

Dimas Mahendra • Kamis, 3 Juli 2025 | 13:50 WIB

 

SIMBOL: Siola dulunya bernama White Away Laidlaw & Co. Sebuah toko serba ada (toserba) yang sangat terkenal pada zaman Hindia Belanda.
SIMBOL: Siola dulunya bernama White Away Laidlaw & Co. Sebuah toko serba ada (toserba) yang sangat terkenal pada zaman Hindia Belanda.

RADAR SURABAYA - Di jantung Jalan Tunjungan Surabaya yang kini sibuk dengan lalu-lalang pejalan kaki dan semangat revitalisasi kawasan heritage, berdiri kokoh sebuah bangunan tua bergaya kolonial.

Siola—begitu namanya dikenal warga Kota Pahlawan saat ini.

Namun jauh sebelum menjadi Gedung Layanan Publik, Siola adalah simbol kemewahan, tempat belanja kalangan elite pada masanya.

“Gedung ini dulunya bernama White Away Laidlaw & Co (jaringan department store Inggris yang beroperasi terutama di Asia, termasuk India, Ceylon, Burma, Singapura, Malaysia, dan Cina, Red). Sebuah toko serba ada (toserba) yang sangat terkenal pada zaman Hindia Belanda. Letaknya strategis di simpang utara Jalan Tunjungan, kawasan perbelanjaan barang-barang branded pada masa itu,” tutur Nur Setiawan, pegiat sejarah Kota Surabaya, Rabu (2/7).

Di era kejayaannya, White Away Laidlaw atau Siola menjadi magnet warga kelas atas yang mencari kebutuhan rumah tangga, perabot, dan barang-barang mewah lainnya.

Namun pada masa pendudukan Jepang, wajah pertokoan ini berubah.

Namanya berganti menjadi Chiyoda, dan fungsinya tetap dipertahankan sebagai pusat perdagangan.

Transformasi besar terjadi saat di Surabaya meledak peristiwa 10 November 1945. Gedung ini menjadi titik strategis—bukan lagi untuk jual beli, melainkan pertahanan.

“Gedung ini sempat rusak cukup parah pada bagian atasnya karena dijadikan tempat para penembak runduk untuk menghadang pasukan Sekutu,” jelas Wawan, sapaan karib Nur Setiawan.

Pasca kemerdekaan, bangunan ini hidup kembali dengan nama baru: Siola.

Nama ini bukan sembarangan, melainkan akronim dari para pengusaha yang mengambil alih usaha perdagangan di tempat itu—Soemitro, Ing Wibisono, Ong Liem, dan Ang.

Mereka berusaha menghidupkan kembali kejayaan toserba masa lalu.

Siola sempat menjadi tujuan belanja favorit warga kota di dekade 1960-an hingga 1980-an.

Tapi seperti banyak pusat perbelanjaan lawas lainnya, Siola perlahan kalah oleh mal dan supermarket modern. Hingga akhirnya, usaha itu pun gulung tikar.

Namun sejarah panjangnya tak ikut lenyap. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil alih gedung ini dan mengubah fungsinya menjadi Gedung Bersama Pelayanan Publik, tempat berbagai dinas seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil melayani masyarakat.

“Melihat peran sejarah dan perjalanannya yang panjang, gedung Siola ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya,” kata Wawan.

Di dalamnya kini juga terdapat Museum Surabaya, ruang arsip, dan galeri sejarah kota yang menghidupkan kembali memori masa lalu.

Gedung yang dulunya simbol kemewahan dan modernitas kini berubah wajah menjadi simbol pelayanan, keterbukaan, dan edukasi sejarah.

Dari tempat belanja para elite menjadi tempat warga mengurus administrasi dan mengenang sejarah kota.

Gedung Siola mungkin sudah berubah. Tapi dinding-dindingnya masih menyimpan gema zaman, dari denting kasir kolonial, langkah kaki tentara, hingga suara warga hari ini yang datang membawa dokumen.

Di sinilah, sejarah dan masa depan Kota Surabaya bersua. (dim/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Surabayapedia #elite #surabaya #Siola #tempat belanja #hindia belanda #Kalangan #mewah #Mal Pelayanan Publik (MPP) #toserba #barang branded