RADAR SURABAYA - Jauh sebelum istilah laundry dikenal luas seperti sekarang, masyarakat Surabaya di masa kolonial Belanda telah mengenal jasa cuci pakaian yang kala itu lebih populer disebut sebagai binatu.
Kegiatan mencuci ini telah berlangsung sejak abad ke-19 dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial. Terutama di kalangan orang-orang Eropa yang menetap di kota ini.
Menurut pegiat sejarah Nur Setiawan, para tukang binatu di masa lampau bekerja dengan peralatan sederhana dan manual.
“Mereka mencuci dengan tangan, memanfaatkan tong untuk merendam pakaian yang dipanaskan di atas tungku. Tidak ada sabun modern, kadang hanya menggunakan lemak hewani yang dibakar dan dilarutkan dalam air,” ujarnya.
Aktivitas mencuci biasanya dilakukan di pinggir kali yang mengalir di berbagai penjuru Surabaya, seperti di kawasan Ketabang Kali.
Di tempat-tempat ini, para pekerja—yang mayoritas adalah laki-laki karena membutuhkan tenaga besar untuk mengucek pakaian—berkumpul dan menjalankan usaha binatu mereka.
Jemuran pun dibuat dari kerangka kayu dan dijajarkan sepanjang bantaran sungai, menciptakan pemandangan khas tempo doeloe.
Para pelanggan jasa ini kebanyakan berasal dari kalangan Eropa atau pekerja asing.
Mereka tinggal datang ke tempat binatu, menyerahkan pakaian kotor, lalu mengambilnya kembali dalam keadaan bersih dan rapi setelah diseterika.
Praktik ini sangat membantu mereka yang enggan mencuci sendiri.
Menariknya, usaha binatu kala itu banyak dikelola oleh warga keturunan Tionghoa dan umumnya berlokasi tak jauh dari kawasan permukiman Eropa.
Hal ini mempermudah akses pelanggan sekaligus membentuk ekosistem jasa cuci yang berkembang pesat di masa itu.
Seiring berjalannya waktu, jasa binatu yang semula terpusat di pinggiran sungai mulai merambah ke rumah-rumah dan menjelma menjadi layanan laundry modern seperti yang kita kenal saat ini.
Namun, jejak sejarahnya tetap terpatri kuat dalam perkembangan kota Surabaya sebagai kota perdagangan yang sarat dinamika sosial. (sur/opi)
Editor : Nofilawati Anisa