Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kampung Kungfu di Surabaya, Warisan Budaya dan Peran Sejarah

Dimas Mahendra • Senin, 23 Desember 2024 | 16:12 WIB

 

DILESTARIKAN: Kawasan Pecinan di Kapasan, julukan Kampung Kungfu menggambarkan kehidupan masyarakat Tionghoa yang tinggal di kawasan tersebut.
DILESTARIKAN: Kawasan Pecinan di Kapasan, julukan Kampung Kungfu menggambarkan kehidupan masyarakat Tionghoa yang tinggal di kawasan tersebut.
 

RADAR SURABAYA – Kawasan Pecinan di Surabaya yang meliputi daerah Kembang Jepun hingga Kapasan memiliki julukan menarik, yakni Kampung Kungfu.

Julukan ini tidak hanya menggambarkan kehidupan masyarakat Tionghoa yang tinggal di kawasan tersebut, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang masih lestari hingga kini.

Menurut Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan, julukan ini muncul karena masyarakat Tionghoa di kawasan Pecinan Surabaya melestarikan seni bela diri tradisional Tiongkok, yaitu kungfu.

Seni bela diri ini dahulu diajarkan di kelenteng dan sekolah berbasis Tionghoa, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

“Dahulu, anak-anak maupun pemuda yang tinggal di kawasan Pecinan sangat mahir memainkan bela diri kungfu. Seni bela diri ini menjadi olahraga yang diajarkan di tempat-tempat ibadah dan sekolah,” ujar Nur Setiawan kepada Radar Surabaya.

Selain memiliki masyarakat yang terampil dalam bela diri, kawasan Pecinan juga melahirkan sosok-sosok ahli bela diri yang dikenal dengan julukan “Buaya Kapasan.”

Istilah ini digunakan untuk merujuk pada pendekar-pendekar kungfu yang berasal dari Pecinan Surabaya, yang disegani karena keahliannya.

“Kaum senior Tionghoa yang ahli dalam bela diri kungfu dijuluki sebagai Buaya Kapasan. Mereka adalah pendekar-pendekar dari Pecinan yang sangat dihormati,” terang Nur Setiawan.

Lebih dari sekadar pelestari budaya, masyarakat Tionghoa di kawasan Pecinan juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada peristiwa heroik 10 November 1945, mereka turut serta dalam mempertahankan Surabaya dari serangan penjajah.

“Orang-orang Tionghoa dari Pecinan Surabaya merasa bahwa tanah yang mereka diami ini adalah bagian dari tanah yang harus dijaga kemerdekaannya. Mereka turun langsung ke front pertempuran untuk membela Merah Putih,” ungkap Nur Setiawan.

Dalam perjuangan tersebut, masyarakat Tionghoa membentuk kelompok-kelompok pejuang yang tergabung dalam laskar seperti TKR Cungking dan Laskar Kuomintang.

Pasukan ini berisi orang-orang peranakan Tionghoa yang setia kepada Republik Indonesia.

“Laskar-laskar ini tidak hanya turun ke medan pertempuran, tetapi juga mendedikasikan diri dalam bidang kemanusiaan. Ada yang tergabung dalam palang merah untuk membantu para korban perang,” ujarnya. (dim/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Surabayapedia #Bela Diri #surabaya #pecinan #Kapasan #Kampung Kungfu #sejarah #kembang jepun