RADAR SURABAYA - Di kawasan Surabaya Selatan dahulu terdapat tiga pabrik gula yang letaknya berdekatan dan berada di sekitar Kali Suroboyo (anak sungai Brantas).
Tiga pabrik gula itu adalah pabrik gula Dadoengan (Pulo Wonokromo), Ketintang dan Karah.
Pemerhati pabrik gula tempo dahulu Agung Widyanjaya mengatakan, pabrik gula Karah diduga sudah ada sejak tahun 1850-an. Termasuk pabrik gula Ketintang dan Dadoengan.
"Di selatan Kalimas itu ada tiga pabrik gula. Pabrik gula Dadoengan, Ketintang dan Karah," ujarnya.
Ia menambahkan, tiga pabrik gula tersebut dahulu alat produksinya menggunakan chinesse moolen atau alat penggilingan tebu dari batu yang ditarik tenaga hewan.
Hal itu dibuktikan dengan penemuan sebuah batu penggilingan tebu yang ada di depan eks kantor administrasi pabrik gula Ketintang.
Batu yang ditemukan itu seperti dengan dua batu penggilingan tebu kuno yang ada di SMA Trimurti Surabaya.
"Kebun tebunya berada dari sekitar (pabrik) Surabaya," ucapnya.
Agung melanjutkan awalnya tiga pabrik gula Dadoengan, Ketintang dan Karah berdiri sendiri-sendiri.
Kemudian pada sekitar tahun 1910 pabrik dilebur menjadi satu di Ketintang.
"Pabrik gula Karah tahun 1910 dibeli pengusaha Gresik namanya Tan Kiem Tjan sebelumnya di tahun 1904 Tan Kiem Tjan membeli pabrik gula Ketintang sama Dadoengan," terangnya.
Tiga pabrik gula itu kemudian dilebur menjadi satu dan produksi dipusatkan di pabrik gula Ketintang.
Tan Kiem Tjan selaku pemilik kemudian melakukan upaya modernisasi alat produksi di pabrik gula Ketintang dengan tujuan meningkatkan hasil produksi.
Namun setelah dimodernisasi terjadi pemberontakan dan musim tidak menentu. Sehingga produksinya tidak mencapai target.
Pabrik gula Ketintang kemudian tutup pada tahun 1920.
Kemudian pada tahun 1925 lahan di Ketintang, Dadoengan dan Karah dijual melalui perusahaan Soesman & Co.
Kemudian dibeli Nederlandsche Handel Maatschappij.
Untuk bekas lokasi pabrik gula Ketintang sempat menjadi tempat penggilingan padi. Kini menjadi lokasi salah satu perumahan.
Jejaknya masih ada bekas kantor administrasi dan alat produksi chinesse moolen.
Sementara untuk pabrik gula Karah sekarang menjadi permukiman warga dan ada peninggalan bekas rumah dinas perusahaan.
"Untuk pabrik gula Dadoengan tidak ada jejak peninggalanya. Lokasinya sekitar Pulo Wonokromo. Dahulu hasil produksi pabrik gula dijual dalam negeri dan ada diekspor juga," tandasnya. (rus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari