Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Person of The Year Piala Dunia U-17 Selebriti Sidoarjo Sport Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bundaran Waru Jadi Pintu Gerbang Kota Surabaya

Lambertus Hurek • 2022-01-27 03:22:05
MACET - Kondisi bundaran Waru yang padat kendaraan saat pemberlakuan PSBB hari pertama, Selasa (28/4/2020). Petugas gabungan memperketat akses masuk ke Surabaya dengan melakukan screening atau pemeriksaan kepada warga di hari pertama pelaksanaan Pembatasa
MACET - Kondisi bundaran Waru yang padat kendaraan saat pemberlakuan PSBB hari pertama, Selasa (28/4/2020). Petugas gabungan memperketat akses masuk ke Surabaya dengan melakukan screening atau pemeriksaan kepada warga di hari pertama pelaksanaan Pembatasa
SURABAYA - Meski letaknya sudah masuk wilayah Kota Surabaya, namun jalan persimpangan ini lebih dikenal dengan sebutan Bundaran Waru. Hal ini kemungkinan karena letaknya yang berbatasan antara Surabaya dan Sidoarjo (Waru).

Bundaran Waru merupakan jalur pusat kegiatan masyarakat Surabaya dan Sidoarjo yang ingin melakukan perjalanan sehari-hari atau perjalanan ke luar kota. Tak heran jika Bundaran Waru juga dikenal sebagai gerbang kota.

Di tengah-tengah Bundaran Waru merupakan lahan kosong yang rimbun dengan pepohonan dan semak belukar, sedikit banyak bisa menjadi penyerap polusi dan menghasilkan oksigen di tengah hiruk pikuk keramaian jalan kawasan tersebut.

Kepala Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Machsus mengatakan, Bundaran Waru merupakan salah satu akses keluar masuk ke Surabaya. Menurutnya, pada jam-jam tertentu sangat potensial menimbulkan kemacetan.

“Apalagi banyak sekali masyarakat yang bekerja di Surabaya, tinggalnya justru di Sidoarjo. Sehingga mobilitas ini sangat besar dan menyebabkan kemacetan,” ujarnya, Rabu (26/1).

Machsus menambahkan, untuk solusi mengurangi kemacetan ini ada beberapa cara. Pertama adalah memperlebar jalan “Tapi kalau dilihat right of way (ROW) di Bundaran Waru sudah habis. Artinya ada solusi kedua yakni melakukan pembatasan lalu lintas, seperti menerapkan ganjil genap,” katanya

Selain itu, lanjut Machsus, bisa juga dengan time management, yakni pada jam-jam tertentu harus diatur kembali yang dikombinasikan dengan rekayasa lalu lintas. Machsus mengatakan, alternatif lainnya adalah membuat over pass atau under pass sehingga kemacetan bisa diurai.

“Sebenarnya kalau bundaran itu tidak terlalu besar maka sangat tidak efektif. Dan yang pasti hadirnya simpang atau bundaran lalu lintas adalah sebuah keharusan ketika pada satu titik ada beberapa luas jalan bertemu,” pungkasnya. (mus/nur) Editor : Lambertus Hurek
#lahan kosong bundaran waru #titik macet bundaran waru #sejarah bundaran waru #Bundaran Waru