AURIS, Timbangan Pintar Bersuara Karya Mahasiswa Unair Bantu Barista Tunanetra Takar Kopi Lebih Pres

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:02 WIB
AURIS, timbangan pintar bersuara yang dirancang untuk membantu barista tunanetra menakar bubuk kopi secara lebih presisi.
AURIS, timbangan pintar bersuara yang dirancang untuk membantu barista tunanetra menakar bubuk kopi secara lebih presisi.

RADAR SURABAYA – Inovasi teknologi untuk mendukung kemandirian penyandang disabilitas terus dikembangkan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair).

Salah satunya melalui Auditory Responsive Intelligent Scale (AURIS), timbangan pintar bersuara yang dirancang untuk membantu barista tunanetra menakar bubuk kopi secara lebih presisi.

AURIS dikembangkan oleh Tim Rasena Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Unair.

Alat tersebut memanfaatkan sinyal suara sebagai panduan bagi pengguna ketika menentukan takaran bubuk kopi.

Inovasi ini berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap isu disabilitas dalam program SustainAction tahun ini. Semula, Tim Rasena berencana membuat tongkat pintar.

Namun, setelah berdiskusi dengan Komunitas Mata Hati (KMH), tim menemukan kebutuhan yang lebih spesifik.

Para barista tunanetra di UMKM KopiCék membutuhkan alat bantu yang dapat memberikan informasi takaran kopi melalui suara.

Baca Juga: HI-SKIL FARM Umsura, Hidroponik Adaptif Bantu Anak Tunagrahita Belajar Mandiri

“Setelah berdiskusi dengan KMH, kami mengetahui bahwa mereka lebih membutuhkan timbangan yang dapat mengeluarkan suara untuk membantu barista tunanetra mereka di UMKM KopiCék dalam proses pembuatan kopi.

 Dari kebutuhan tersebut, kami kemudian mengembangkan AURIS,” kata perwakilan Tim Rasena, Jessica Rahma Valere Satyo, Kamis (20/8).

Cara Kerja AURIS

AURIS dirancang untuk mengubah data berat yang diperoleh dari sensor load cell menjadi informasi suara secara langsung.

Sistem tersebut memungkinkan pengguna menentukan target berat sebelum proses penakaran dilakukan.

Ketika bubuk kopi dituangkan ke atas timbangan, buzzer akan memberikan sinyal suara. Bunyi tersebut berhenti ketika berat bubuk kopi telah mencapai takaran yang ditentukan.

Sistem ini dipadukan dengan tombol fisik sehingga pengguna dapat mengoperasikan alat tanpa harus mengandalkan penglihatan.

Teknologi sederhana tersebut diharapkan dapat membantu barista tunanetra bekerja lebih mandiri sekaligus menjaga konsistensi takaran dalam proses pembuatan kopi.

Baca Juga: UWP Terapkan Teknologi IoT untuk Dongkrak Kualitas Melon Premium di Blitar

Pengembangan AURIS bukan tanpa tantangan. Tim Rasena harus melakukan sejumlah uji coba untuk memastikan sistem dapat bekerja sesuai kebutuhan pengguna.

Bahkan, mahasiswa melakukan pengujian hingga dini hari di markas KMH. Proses tersebut dilakukan untuk menemukan dan memperbaiki berbagai kendala sebelum AURIS diperkenalkan secara resmi.

“Kesan yang kami dapatkan sangat positif. Para barista merasa senang dan kagum karena alat ini membantu mereka.

 Kami bahkan pernah melakukan uji coba dari pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari di basecamp KMH untuk memperbaiki berbagai error sebelum sosialisasi,” ujar Jessica, mahasiswi Teknik Elektro FTMM angkatan 2024.

Dalam proses pengembangan, tim sempat menghadapi kendala kejernihan suara dan tingkat presisi alat.

Persoalan tersebut bahkan sempat menyebabkan jadwal sosialisasi harus ditunda.

Namun, masukan dari pengguna justru menjadi bagian penting dalam penyempurnaan AURIS. Salah satunya terkait desain bodi alat yang dibuat menggunakan teknologi pencetakan 3D.

Desain tersebut kemudian disesuaikan agar lebih mudah dibuka sehingga proses perawatan dan perbaikan dapat dilakukan dengan lebih fleksibel.

“Masukan tersebut justru membantu kami mengembangkan AURIS menjadi lebih baik. Termasuk menyesuaikan desain bodi 3D printing agar lebih fleksibel saat dibuka untuk proses perbaikan,” jelasnya.

AURIS Akan Dikembangkan Lebih Luas

Tim Rasena tidak berhenti pada tahap pengembangan dan uji coba. Ke depan, mereka berkomitmen menyempurnakan AURIS agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra.

Satu unit AURIS juga direncanakan diserahkan kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair.

Alat tersebut akan digunakan sebagai bagian dari pengembangan dan pengujian lebih lanjut.

“Kami ingin terus mengembangkan AURIS agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka,” pungkas Jessica. (rmt)

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
AURIS Unair barista universitas airlangga