SMK Muhammadiyah 5 Gresik Kembangkan Pendidikan Vokasi Berbasis Agribisnis

RADAR SURABAYA – Greenhouse sederhana di lingkungan SMK Muhammadiyah 5 Gresik perlahan diarahkan menjadi lebih dari sekadar tempat praktik bercocok tanam. Di balik tanaman hortikultura yang tumbuh di dalamnya, sekolah sedang menyiapkan model pendidikan vokasi yang menghubungkan pembelajaran, produksi, kewirausahaan, dan kebutuhan masyarakat.
Gagasan tersebut dikembangkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang melibatkan tim dosen yang diketuai Heru Baskoro bersama Sukaris dan Muhammad Yusuf dari Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan tema Peningkatan Teaching Factory Agribisnis (TEFA) melalui Eduwisata Hortikultura bagi Siswa SMK Muhammadidiyah 5 Panceng untuk Kompetensi Vokasional dan Kewirausahaan Berkelanjutan selama dua hari yakni Selasa (18/8) dan Rabu (19/8).
Ketua tim Heru Baskoro memandang SMK Muhammadiyah 5 Gresik memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan konsep tersebut. Sekolah memiliki konsentrasi keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), lahan praktik pertanian, fasilitas hidroponik dan vertical farming, serta dukungan guru produktif dan jejaring lebih dari sepuluh mitra industri agribisnis.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan ekonomi dan kewirausahaan sekolah. Maka sebagai pendorong kegiatan pengabdian dari Program Direktorat Jenderal Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026, menjadi stimulus agar konsep TEFA tercapai.
Selama ini, aktivitas praktik masih lebih banyak berorientasi pada pembelajaran internal. Pemanfaatan TEFA sebagai unit usaha yang berkelanjutan juga belum optimal. Di sisi lain, kemampuan siswa dalam manajemen usaha, pemasaran, pengemasan produk, dan pelayanan eduwisata masih perlu diperkuat.
"Di sinilah konsep TEFA menjadi penting. Siswa tidak hanya diajarkan bagaimana menanam dan merawat tanaman. Mereka diarahkan memahami seluruh rantai proses produksi. Mulai dari persiapan lahan dan greenhouse, budidaya, pemeliharaan, panen, pascapanen, pengemasan, hingga pemasaran," ujar Heru.

Heru menjelaskan model pembelajaran tersebut menggunakan pendekatan learning by doing. Siswa terlibat langsung dalam proses produksi hortikultura di TEFA, termasuk penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama, panen, dan pascapanen.
"Artinya, greenhouse menjadi ruang kelas yang tidak memiliki dinding. Di tempat itu siswa belajar menghadapi persoalan nyata. Tanaman yang tidak tumbuh optimal, hasil panen yang tidak sesuai target, kebutuhan nutrisi, hingga bagaimana produk tersebut bisa memiliki nilai jual menjadi bagian dari proses belajar," paparnya.
Di sisi lain, anggota tim Sukaris memperkuat sisi kewirausahaan, manajemen usaha, dan pemasaran dalam program tersebut. Peran ini menjadi penting karena kemampuan menghasilkan produk belum cukup untuk membangun sebuah usaha.
"Produk hortikultura harus mampu dikemas, diberi harga, dipasarkan, dan diperkenalkan kepada konsumen," ujar doktor lulusan Airlangga ini.



