HI-SKIL FARM Umsura, Hidroponik Adaptif Bantu Anak Tunagrahita Belajar Mandiri

Indra Wijayanto • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:49 WIB
KOLABORASI: Tim pengabdian bersama guru SLB Karya Bhakti Surabaya berkolaborasi dalam pengembangan HI-SKIL FARM, menghadirkan pembelajaran vokasional hidroponik yang adaptif. (Humas)
KOLABORASI: Tim pengabdian bersama guru SLB Karya Bhakti Surabaya berkolaborasi dalam pengembangan HI-SKIL FARM, menghadirkan pembelajaran vokasional hidroponik yang adaptif. (Humas)

RADAR SURABAYA – Inovasi pembelajaran vokasional bagi anak tunagrahita terus dikembangkan melalui pendekatan yang konkret dan adaptif.

Salah satunya dilakukan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) melalui Hidroponik Adaptif HI-SKIL FARM di SLB Karya Bhakti Surabaya.

Program yang diketuai dosen Pendidikan Biologi Umsura, Yuni Gayatri, tersebut memanfaatkan hidroponik sebagai media

pembelajaran untuk mengasah keterampilan, kemandirian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri peserta didik.

Berbeda dengan pembelajaran hidroponik pada umumnya, HI-SKIL FARM dirancang khusus dengan mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan anak tunagrahita.

 Setiap kegiatan dibuat konkret, sederhana, bertahap, dan mudah diikuti.

Baca Juga: UWP Terapkan Teknologi IoT untuk Dongkrak Kualitas Melon Premium di Blitar

“Kami ingin kegiatan vokasional ini tidak berhenti pada kemampuan menanam. Lebih dari itu, anak-anak belajar mengikuti tahapan pekerjaan, bertanggung jawab, dan menyelesaikan tugas secara mandiri,” ujar Yuni.

HI-SKIL FARM Gunakan Metode Task Analysis

Dalam pelaksanaannya, HI-SKIL FARM memadukan teknologi hidroponik dengan metode pembelajaran berbasis task analysis. Metode tersebut memecah satu pekerjaan menjadi sejumlah tahapan sederhana.

Siswa terlebih dahulu dikenalkan dengan alat dan bahan. Setelah itu, mereka belajar menyiapkan media, menanam, merawat tanaman, hingga melakukan panen.

Setiap tahapan menjadi bagian dari proses pembelajaran. Siswa dilatih mengikuti instruksi, berkonsentrasi, menyelesaikan tugas, serta memahami tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena setiap anak memiliki kemampuan dan karakteristik belajar yang berbeda.

“Anak tunagrahita membutuhkan instruksi yang konkret, sederhana, dan dilakukan secara bertahap.

Karena itu, teknologi dalam HI-SKIL FARM kami rancang bukan untuk membuat pembelajaran menjadi rumit, tetapi justru untuk membantu anak memahami apa yang harus dilakukan,” jelas Yuni.

Dilengkapi Teknologi IoT dan Sensor

HI-SKIL FARM tidak hanya mengandalkan praktik budi daya tanaman. Sistem hidroponik tersebut juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) dan sensor untuk memantau kondisi air serta nutrisi tanaman.

BELAJAR HIDROPONIK: Peserta didik mempraktikkan budidaya hidroponik adaptif dalam pembelajaran vokasional HI-SKIL FARM. Kegiatan ini menjadi sarana untuk melatih keterampilan, kemandirian dan konsentrasi. (Humas)
BELAJAR HIDROPONIK: Peserta didik mempraktikkan budidaya hidroponik adaptif dalam pembelajaran vokasional HI-SKIL FARM. Kegiatan ini menjadi sarana untuk melatih keterampilan, kemandirian dan konsentrasi. (Humas)

Data teknis yang dihasilkan kemudian diterjemahkan menjadi indikator visual dan suara yang lebih sederhana. Dengan cara tersebut, siswa tidak perlu memahami informasi teknis yang kompleks.

Mereka cukup mengenali tanda tertentu untuk mengetahui apakah kondisi hidroponik dalam keadaan baik atau membutuhkan perhatian.

Baca Juga: BRI Konsisten Salurkan Kredit dengan Prinsip Kehati-hatian, Jaga Pertumbuhan Berkualitas dan Berkela

Teknologi dalam program ini dengan demikian berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sekadar perangkat tambahan.

 Sistem dirancang agar informasi mengenai kondisi tanaman dapat dipahami dengan lebih mudah oleh siswa.

HI-SKIL Flashcards Perkuat Pembelajaran Multisensori

Untuk mendukung proses pembelajaran, HI-SKIL FARM juga dilengkapi HI-SKIL Flashcards.

Media tersebut berisi gambar atau piktogram mengenai tahapan pekerjaan dan menyediakan akses menuju video tutorial.

Penggunaan gambar, warna, suara, dan video menciptakan pengalaman belajar multisensori.

Siswa tidak hanya menerima instruksi secara lisan dari guru, tetapi juga dapat melihat contoh, memahami urutan pekerjaan, kemudian mempraktikkannya secara langsung.

Model tersebut membuat kegiatan hidroponik menjadi lebih dari sekadar aktivitas bercocok tanam.

Setiap tahapan menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan fungsional yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan Tidak Hanya Dilihat dari Hasil Panen

Yuni menegaskan, keberhasilan HI-SKIL FARM tidak hanya ditentukan berdasarkan jumlah tanaman yang berhasil tumbuh dan dipanen.

Menurut dia, perubahan perilaku dan kemampuan siswa selama menjalankan proses pekerjaan justru menjadi indikator penting.

“Ukuran keberhasilannya bukan hanya tanaman tumbuh dan bisa dipanen. Kami juga melihat bagaimana anak mampu mengikuti instruksi,

mengenali urutan pekerjaan, merawat tanaman, menyelesaikan tugas, dan menunjukkan rasa percaya diri terhadap apa yang sudah mereka kerjakan,” katanya.

Baca Juga: Usung Filosofi Omotenashi, Chef Masakazu Mikuriya Hadirkan Pengalaman Kuliner Jepang Terbaik

Pengalaman merawat tanaman hingga menghasilkan panen memberikan pembelajaran konkret kepada siswa mengenai proses, ketekunan, dan tanggung jawab.

Ketika melihat tanaman yang dirawat tumbuh dan menghasilkan, siswa juga mendapatkan pengalaman bahwa sebuah hasil membutuhkan proses yang dilakukan secara konsisten.

Dorong Kemandirian Anak Tunagrahita

HI-SKIL FARM diarahkan untuk membangun keterampilan vokasional yang dapat menjadi bekal bagi peserta didik.

Teknologi digunakan untuk membuat pembelajaran lebih sederhana, menarik, adaptif, dan mudah dipahami.

“Harapannya, keterampilan yang diperoleh anak dari kegiatan ini tidak hanya bermanfaat selama berada di sekolah.

Kami ingin mereka memiliki pengalaman dan keterampilan yang bisa menjadi bekal untuk lebih mandiri di masa depan,” tutur Yuni.

Program tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa aktivitas sederhana seperti hidroponik dapat dikembangkan menjadi sarana pembelajaran yang memiliki dampak lebih luas.

Dengan pendampingan yang tepat, siswa tidak hanya belajar mengenal tanaman, tetapi juga berlatih mengikuti instruksi, bekerja secara bertahap, menyelesaikan tugas, merawat sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya, dan membangun rasa percaya diri.

Selaras dengan Target SDGs

Pengembangan HI-SKIL FARM juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Program tersebut mendukung SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan keterampilan produktif sebagai bekal kemandirian peserta didik.

Selain itu, pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa sejalan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, terutama dalam mendorong kesempatan belajar yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.

Program HI-SKIL FARM merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026, Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pelaksanaan kegiatan tersebut didasarkan pada Nomor Kontrak Induk 210/C3/DT.05.00/PM/2026, Nomor Kontrak Turunan 011/LL7/DT.05.00/PM/2026, serta Nomor Kontrak 014/SP/II.3.AU/LRIPM/PKM/2026.

Melalui HI-SKIL FARM, hidroponik tidak hanya menjadi sarana mengenalkan budi daya tanaman.

Inovasi tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi anak tunagrahita untuk mengembangkan keterampilan vokasional, kemandirian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri secara bertahap. (ind)

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
HI-SKIL FARM Hidroponik Adaptif umsura