Tinjau Program Bantuan Presiden di SDN Kebonsari 1 Surabaya, Anggota DPRD Jatim Terima Keluhan Guru Terkait Kekurangan Tenaga Pendidik

Mus Purmadani • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 14:22 WIB
TURUN GUNUNG: Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso saat berkunjung ke SDN Kebonsari I, Surabaya, untuk meninjau program bantuan Presiden. (IST/RADAR SURABAYA)
TURUN GUNUNG: Anggota Komisi E DPRD Jatim, Cahyo Harjo Prakoso saat berkunjung ke SDN Kebonsari I, Surabaya, untuk meninjau program bantuan Presiden. (IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim) Cahyo Harjo Prakoso meninjau langsung SDN Kebonsari 1 Surabaya yang menjadi salah satu penerima manfaat program revitalisasi sekolah atau bantuan Presiden (Banpres) dari Presiden Prabowo Subianto, Rabu (29/7). Dalam kunjungan tersebut, Cahyo sekaligus melihat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah diterima para siswa.

Ketua DPC Partai Gerindra asuranaya ini mengatakan, revitalisasi sekolah merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi para peserta didik. Menurutnya, SDN Kebonsari 1 Surabaya layak mendapatkan perhatian karena memiliki jumlah siswa yang cukup besar dengan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.

"Program ini adalah salah satu upaya Bapak Presiden untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak didik kita, khususnya di Kota Surabaya," kata Cahyo.

Baca Juga: Tepergok Bobol Rumah Kosong di Jalan Diponegoro Surabaya, Satu Terduga Pelaku Ditangkap Massa

Ia menilai, kondisi SDN Kebonsari 1 Surabaya setelah mendapatkan revitalisasi semakin baik. Sarana dan prasarana yang memadai dinilai dapat mendukung proses belajar mengajar sekaligus meningkatkan kenyamanan siswa dan guru.

Cahyo juga mengapresiasi para tenaga pendidik yang dinilainya ramah, sabar, dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, keberadaan program MBG di sekolah tersebut juga dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang siswa.

"Kita bisa lihat sendiri bagaimana adik-adik murid di SDN Kebonsari 1 ini sangat senang dan berbahagia dengan kondisi kelasnya yang semakin baik. Ditambah sarana prasarana yang baik, guru pengajar yang saya lihat sangat baik, ramah, sabar, dan memiliki kualitas yang baik," ujarnya.

Baca Juga: Tersangka Pembacokan di Kafe Jalan Basuki Rahmat Surabaya Buang Sajam ke Sungai, Ini Pesan Kapolrestabes untuk DC

Menurut Cahyo, sinergi antara peningkatan kualitas fasilitas pendidikan dengan program MBG diharapkan mampu menciptakan generasi penerus bangsa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

"Insya Allah, SDN Kebonsari 1 Surabaya ini akan melahirkan generasi penerus yang betul-betul sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa kita, yaitu generasi yang berintelektual tetapi juga memiliki karakter kepribadian dan kebudayaan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," jelasnya.

Cahyo menjelaskan, salah satu alasan SDN Kebonsari 1 dipilih dalam program revitalisasi adalah jumlah siswanya yang cukup besar. Di sisi lain, sebelumnya masih terdapat sejumlah ruang kelas yang menggunakan atap seng maupun asbes. Bahkan, terdapat bagian atap yang mengalami kebocoran sehingga membutuhkan perbaikan.

Baca Juga: ‎Pencurian Kursi dan Perusakan Taman Viral, Eri Cahyadi Ajak Warga Surabaya Jadi Penjaga Aset Kota

Karena itu, ia berharap proses revitalisasi dapat terus dilanjutkan hingga seluruh bagian sekolah mendapatkan fasilitas yang layak. Termasuk mengganti material bangunan yang dinilai sudah tidak ideal, seperti penggunaan asbes pada sejumlah bagian bangunan sekolah.

"Tadi sudah disampaikan oleh tenaga pendidik maupun komite sekolah, harapannya yang masih menggunakan asbes ini bisa direvitalisasi juga. Ini sejalan dengan gagasan Bapak Presiden untuk melakukan perbaikan terhadap hunian maupun tempat pendidikan di Indonesia," tuturnya.

Selain persoalan infrastruktur, Cahyo juga menyoroti keterbatasan jumlah tenaga pendidik di SDN Kebonsari 1 Surabaya. Persoalan tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian bersama agar kualitas layanan pendidikan tetap terjaga.

Ia menyebut kebutuhan guru tidak hanya untuk tenaga pendidik umum, tetapi juga tenaga pendidik yang memiliki kompetensi dalam menangani pendidikan inklusif. Menurutnya, sekolah harus mampu menyediakan ekosistem pendidikan yang nyaman bagi seluruh anak tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi mereka.

Baca Juga: PWI Jatim: Harus Cerdas Hadapi Disrupsi Media

"Kendala terkait jumlah tenaga pendidik yang terbatas, baik tenaga pendidik umum maupun tenaga pendidik di sisi inklusif, tentu menjadi sorotan kami. Ini akan kami sampaikan kepada Ibu Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya," katanya.

Cahyo menambahkan, pendidikan inklusif membutuhkan dukungan tenaga pendidik yang memadai, sertifikasi, serta pendampingan yang berkelanjutan. Hal tersebut penting agar setiap siswa dapat memperoleh hak pendidikan yang sama dan berkembang secara optimal.

"Ini tentu juga membutuhkan tenaga pendidik baru, sertifikasi, dan pendampingan agar sekolah kita betul-betul memberikan rasa nyaman dan ekosistem yang baik bagi tumbuh kembang semua anak kita, tanpa mengenal ras, suku, agama, maupun kondisi fisik dan mentalnya," pungkasnya. (mus/gun)

 

Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar surabaya
banpres sdn kebonsari revitalisasi sekolah Cahyo Harjo Prakoso dprd jatim