RADAR SURABAYA - Cuaca di Kota Surabaya pada Selasa (7/7/2026) diprakirakan didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan sepanjang hari. Peluang hujan sangat kecil sehingga aktivitas masyarakat diperkirakan berlangsung tanpa gangguan cuaca yang berarti.
Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB, suhu udara berada di kisaran 24 derajat Celsius dengan kondisi berawan tersebar. Memasuki pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, cuaca berubah menjadi cerah dengan suhu meningkat dari 24 hingga 25 derajat Celsius.
Baca Juga: Libur Sekolah Bikin Penumpang Komuter Surabaya Melonjak, Sudah Tembus 529 Ribu Orang
Mulai pukul 08.00 hingga siang hari, langit diprakirakan cerah. Suhu udara terus meningkat dari 27 derajat Celsius pada pagi menjelang siang hingga mencapai puncaknya sekitar 32 derajat Celsius pada pukul 13.00–15.00 WIB.
Meski suhu udara berada di kisaran 32 derajat Celsius, suhu yang dirasakan masyarakat dapat mencapai sekitar 35 derajat Celsius akibat pengaruh kelembapan udara dan paparan sinar matahari.
Memasuki sore hari, kondisi cuaca berangsur berubah menjadi cerah berawan hingga berawan. Suhu udara perlahan turun dari 31 derajat Celsius pada pukul 16.00 WIB menjadi 29 derajat Celsius pada pukul 18.00 WIB.
Pada malam hari, cuaca diprakirakan tetap berawan hingga berawan sebagian. Suhu udara berkisar antara 27 hingga 26 derajat Celsius dengan kelembapan meningkat hingga sekitar 84 persen menjelang tengah malam.
Kecepatan angin sepanjang hari tergolong ringan, berkisar 4 hingga 13 kilometer per jam. Sementara itu, peluang hujan berada pada kisaran 0 hingga 8 persen dengan prakiraan curah hujan nihil.
Baca Juga: BRI Perkuat Ekonomi Desa Lewat Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Bandung Barat
Belakangan ini, banyak warga Surabaya mengeluhkan cuaca yang terasa semakin menyengat. Padahal, suhu udara yang tercatat dalam prakiraan cuaca hanya berkisar 32 hingga 33 derajat Celsius. Perbedaan tersebut terjadi karena suhu udara yang diumumkan merupakan hasil pengukuran alat meteorologi, sedangkan panas yang dirasakan tubuh dipengaruhi berbagai faktor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, sensasi panas atau heat index dipengaruhi oleh kelembapan udara, intensitas sinar matahari, kecepatan angin, serta kondisi lingkungan sekitar.
Kelembapan yang masih tinggi membuat keringat lebih sulit menguap sehingga proses pendinginan alami tubuh menjadi kurang efektif. Akibatnya, tubuh merasakan suhu yang lebih panas dibandingkan suhu udara yang sebenarnya.
Selain itu, Surabaya mulai memasuki musim kemarau. Berkurangnya tutupan awan membuat sinar matahari lebih leluasa menyinari permukaan bumi sejak pagi hingga siang hari. Kondisi tersebut menyebabkan cuaca terasa lebih terik, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Karakter Surabaya sebagai kota metropolitan juga turut memperkuat efek panas. Permukaan jalan beraspal, beton, dan bangunan bertingkat menyerap panas pada siang hari, kemudian melepaskannya kembali ke lingkungan sekitar. Akibatnya, udara tetap terasa gerah meski matahari mulai condong ke barat. (*)
Editor : Lambertus Hurek