RADAR SURABAYA - Hujan deras yang mengguyur Surabaya pada dini hari, Senin (22/6/2026), mengejutkan puluhan warga yang tengah mengikuti nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 antara Belgia melawan Iran. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 02.50 WIB di kawasan Jalan Kusuma Bangsa.
Saat hujan turun mendadak, para peserta nonton bareng yang semula asyik menyaksikan pertandingan langsung panik. Mereka berlarian untuk mengamankan barang bawaan, mulai tas, ponsel, hingga kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi.
Baca Juga: IPSI Jatim Bidik 4 Emas di PON 2028, 40 Atlet Disiapkan Lewat Standarisasi Latihan
Suasana yang semula ramai dengan sorak sorai pendukung sepak bola berubah seketika menjadi riuh. Sebagian warga berteduh di bawah kanopi toko, sementara lainnya memilih menunggu hujan reda sambil membawa barang-barang mereka ke tempat yang lebih aman.
Ahmad, warga Tambaksari yang ikut dalam kegiatan nonton bareng tersebut, mengaku terkejut dengan hujan yang turun tiba-tiba.
“Kaget karena sudah lama tidak hujan. Apalagi sekarang musim kemarau,” ujarnya.
Menurut Ahmad, hujan deras itu memang cukup mengejutkan karena dalam beberapa pekan terakhir cuaca di Surabaya cenderung panas dan kering. Kondisi tersebut membuat sebagian besar warga tidak menduga akan turun hujan pada dini hari.
Baca Juga: 80 Tahun CLS Surabaya Dirayakan Besar-besaran, 60 Tim dari 3 Negara Bersaing!
Beruntung, hujan deras itu tidak berlangsung lama. Intensitas hujan mulai menurun setelah sekitar 30 menit, sehingga aktivitas warga kembali normal.
“Untungnya hujan tidak lama, tidak sampai setengah jam,” tambah Ahmad.
Meski Jawa Timur telah memasuki musim kemarau, potensi hujan masih tetap ada di sejumlah wilayah. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 17 hingga 23 Juni 2026.
Dalam peringatannya, BMKG menyebut sejumlah wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi tersebut dapat disertai dampak hidrometeorologi berupa genangan, luapan air sungai, hingga tanah longsor.
Fenomena hujan di musim kemarau sendiri bukan hal yang sepenuhnya tidak biasa. Perubahan pola atmosfer dan dinamika cuaca regional dapat memicu terbentuknya awan hujan meski sebagian besar wilayah sudah memasuki musim kering.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada malam hingga dini hari.(*)
Editor : Lambertus Hurek