RADAR SURABAYA - Tim Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya menangkap empat pelaku pengeroyokan yang menyebabkan TJK alias Thomas, 19, pemuda asal Jalan Manukan Yoso II, Manukan Kulon, Tandes, Surabaya, meninggal dunia.
Keempat pelaku ditangkap oleh Tim Resmob Polrestabes Surabaya pada Jumat (5/6). Penangkapan dilakukan setelah polisi melakukan serangkaian penyelidikan dan mengumpulkan alat bukti.
Kasi Humas Polrestabes Surabaya AKP Hadi Ismanto membenarkan bahwa empat pelaku pengeroyokan terhadap Thomas sudah diamankan di Mapolrestabes Surabaya.
Baca Juga: Viral Pencurian Tiang Besi Rambu di Depan Satpas Colombo Surabaya, Pelaku Akhirnya Ditangkap
"Inisial CJF, AAY, KVRL dan RU. Pelaku teman sekolah tidak ada kaitanya dengan perguruan silat maupun gangster," kata Kasihumas Polrestabes Surabaya AKP Hadi Ismanto, Minggu (7/6).
Mengenai kronologi dan motif sebenarnya kasus tersebut polisi masih belum menjelaskan detail. Sebab, penyidik kepolisian masih melakukan penyidikan dan melakukan pemeriksaan pendalaman terhadap pelaku.
Baca Juga: Segera Update Data, Pemkot Surabaya Gunakan Perlinsos untuk Verifikasi Penerima Bansos
Kronologi Pengeroyokan hingga Meninggal di Manukan Kulon Surabaya
Diberitakan sebelumnya, seorang pemuda TJK alias Thomas, 19, meninggal dunia diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Manukan Kulon, Tandes Surabaya, Minggu (31/5) dini hari.
Korban yang tinggal di Jalan Manukan Yoso II Manukan Kulon Tandes meninggal dunia setelah dirawat selama lima hari di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
Kakak kandung korban Hana Novia Kristiani, 32, mengatakan awalnya mendapatkan kabar melalui pesan WhatsApp (WA) bahwa Thomas berada di salah satu rumah sakit Ibu dan Anak kawasan Jalan Manukan Tengah Minggu (31/5) pukul 02.30.
Baca Juga: Jerman Kalahkan Amerika Serikat 2-1, Kai Havertz Bersinar Jelang Piala Dunia 2026
Saat itu Hana sedang tidak di rumah karena dinas di luar kota. Dirinya meminta teman yang memberikan kabar untuk mendatangi memberikan kabar kepada keluarga di rumah Jalan Manukan Yoso II.
Usai mendapatkan kabar, pihak keluarga di rumah mendatangi rumah sakit dan menanyakan keadaan Thomas. "Saat itu keadaan Thomas tidak sadarkan diri," ujarnya ditemui di rumah Jalan Manukan Yoso II, Kamis (4/6) petang.
Pihak dokter rumah sakit juga tidak bisa menjelaskan detail analisa awal kondisi korban karena rumah sakit ibu dan anak. Tak lama kemudian disarankan untuk rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Keluarga korban mencari ambulans dan membawa Thomas ke RSUD Dr Soetomo. Setibanya di rumah sakit, korban dilakukan, rontgen dan CT Scan.
Baca Juga: Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Start Posisi 9, Peluang Raih Poin Terbuka
"Pukul 2 siang operasi di bagian otak selesai magrib. Menurut tim medis hasil operasinya itu tidak berjalan baik alias gagal karena kondisi anak Thomas ini cukup parah lukanya dikarenakan ada kepala bagian belakang yang robek," jelasnya.
Thomas juga mengalami pendarahan cukup parah dan pembuluh darah pecah. Dokter tidak berani melanjutkan penanganan karena melihat kondisi korban waktu itu riskan jika dilanjutkan operasi.
"Maka dihentikan sesaat untuk operasi pertama. Sambil menunggu Thomas sadar. Setelah jam 6 sore operasi selesai Thomas diberikan anastesi berfungsi untuk mengistirahatkan otaknya. Hari Minggu jam 6 sore itu sampai hari ini tadi yang mana anak Thomas berpulang keadaan koma tidak sadarkan diri," bebernya.(rus/gun)
Editor : Guntur Irianto