RADAR SURABAYA - Dua orang jemaah haji yang tergabung dalam Kloter 12 asal Kota Malang wafat hampir bersamaan.
Satu orang wafat saat pesawat Saudi Arabia Airlines yang ditumpanginya 30 menit hendak mendarat di Bandara Internasional Juanda, sedangkan satu orang lainnya wafat saat berada di dalam bus menuju Asrama Haji Debarkasi Surabaya, Kamis (4/6) siang.
Baca Juga: Haji 2026: Maskapai dan Kemenhaj Beri Santunan Ganda bagi Jemaah Haji yang Wafat di Pesawat
Dua jemaah tersebut menambah jumlah total jemaah yang wafat hingga kini menjadi 49 orang.
Ketua PPIH Debarkasi Surabaya, Mohammad As'adul Anam, mengatakan untuk kloter 12 ada jemaah yang wafat. Yang pertama atas nama Heri Widianto, 69, kloter 12 asal Kota Malang, Kemudian satunya adalah Wayan Rohani Suwasti, 58, wafat di dalam bus.
Baca Juga: Kedatangan Jemaah Haji Debarkasi Surabaya Didominasi Keluhan ISPA, Tidak Ditemukan Penyakit Menular
Menurut Anam, dugaan sementara penyebab utama kedua jemaah wafat adalah akibat kelelahan setelah menunaikan rangkaian ibadah haji, termasuk melaksanakan rangkaian Armuzna. Meski demikian, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan medis resmi untuk memastikan penyebab pastinya.
“Saya kira kelelahan ya, karena kan masih sangat dekat dengan pelaksanaan ibadah di Armuzna kemudian harus melakukan perjalanan jauh untuk pulang dan sebagainya. Tapi pastinya tetap kita menunggu informasi resmi dari tim medis yang nanti akan disampaikan kepada kami, masih dalam proses,” jelasnya.
Baca Juga: Cerita Jemaah Haji Kloter 1 Asal Probolinggo usai Tiba di Surabaya, Ulang Tahun Dirayakan Pemerintah Arab Saudi
Anam menjelaskan kedua jenazah akan langsung dibawa ke daerah asal masing-masing untuk dimakamkan. Terkait asuransi dan pertanggungan, selain yang ditanggung negara, terdapat perlindungan tambahan dari pihak maskapai penerbangan dan biaya perjalanan ibadah haji.
“Mereka akan langsung dibawa ke daerah masing-masing untuk dimakamkan. Untuk pemulasaran dan penanganan medis ditangani oleh pihak RS Haji. Sedangkan asuransi kematian ada dari pihak maskapai sendiri selain itu dari biaya perjalanan haji juga ada jaminan. Besaran pertanggungan dari biaya haji itu disesuaikan dengan BPIH yang telah dibayarkan,” terangnya.
Anam menambahkan bahwa peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi penting bagi pihak penyelenggara untuk perbaikan di masa mendatang.
“Yang paling banyak teridentifikasi adalah kelelahan, terutama setelah melaksanakan ibadah di Armuzna. Pemicu utamanya adalah gangguan fungsi jantung akibat kelelahan. Oleh karena itu, ini akan menjadi bahan evaluasi kami, bagaimana ke depannya penanganan terhadap kondisi fisik jemaah agar lebih maksimal, terutama dalam mengantisipasi dampak kelelahan,” jelasnya.
Baca Juga: Siapkan Corridor Gate, Jemaah Haji Jakarta dan Surabaya Tidak Perlu Antre Imigrasi
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Debarkasi Surabaya, Rosidi Roslan, mengatakan kondisi medis dan upaya penanganan yang telah dilakukan. Ia menyebutkan bahwa untuk jemaah yang meninggal di pesawat, tim medis kloter telah memberikan pertolongan selama 15 menit, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Jemaah yang wafat di pesawat sudah dilakukan tindakan medis selama 15 menit. Namun saat pesawat hendak mendarat, tindakan medis yang dilakukan dokter kloter harus dihentikan. Diduga jemaah tersebut wafat tepat saat pesawat hendak mendarat," tuturnya.
Sedangkan jemaah yang wafat di bus diperkirakan menghembuskan napas terakhir saat kendaraan hendak masuk ke Asrama Haji Debarkasi Surabaya. "Jemaah tersebut sempat diturunkan dan dibawa ke klinik untuk ditangani, namun akhirnya dirujuk ke RS Haji untuk memastikan kondisinya,” imbuhnya.
Rosidi juga menambahkan kesehatan kedua almarhum. Jemaah pria berusia 69 tahun tersebut diketahui memiliki riwayat penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Sedangkan jemaah perempuan juga memiliki keluhan serupa pada jantung.
“Kami turut berduka cita atas wafatnya dua jemaah pada siang ini. Sehingga total jemaah yang wafat hingga hari ini menjadi 49 orang. Identifikasi sementara menunjukkan faktor dominan adalah kelelahan berat yang memicu gangguan jantung, mengingat aktivitas ibadah yang sangat padat dan melelahkan,” pungkasnya. (rmt/vga)