RADAR SURABAYA – Memasuki hari kelima uji coba Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, posko pelayanan di sekolah-sekolah dan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya dipadati ribuan orang tua murid. Mayoritas warga datang untuk memastikan data domisili, jalur pendaftaran, hingga kelengkapan administrasi anak mereka tidak bermasalah saat pelaksanaan SPMB resmi dimulai.
Uji coba SPMB yang berlangsung sejak 22 hingga 28 Mei 2026 ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mengenali sistem baru berbasis digital yang diterapkan Pemkot Surabaya.
Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, mengungkapkan antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak hari pertama pembukaan layanan.
Baca Juga: Dana Operasional Program MBG di Jatim Tembus Rp 7 Triliun
“Di hari pertama saja sudah ribuan warga memanfaatkan posko pelayanan. Sampai sekarang setiap hari masih terus ramai,” ujar Febri.
Menurutnya, sebagian besar persoalan yang muncul bukan berasal dari gangguan sistem aplikasi, melainkan kendala teknis administrasi dan pemahaman masyarakat terhadap mekanisme SPMB.
Baca Juga: Polda Jatim Tangkap Pelaku Penadah Motor Hasil Begal di Pasuruan
Salah satu persoalan yang paling sering ditanyakan adalah terkait status domisili dan kondisi keluarga tertentu, seperti anak yang tinggal bersama nenek atau keluarga selain orang tua kandung.
“Ada orang tua yang bingung karena kondisi administrasi anak berbeda-beda. Misalnya tinggal dengan neneknya. Selain itu, soal jarak rumah dan jalur domisili juga masih menjadi pertanyaan utama,” jelasnya.
Baca Juga: Mantan Kepala Gudang di Sidoarjo Edarkan Produk Kedaluwarsa
Meski demikian, Dispendik memastikan seluruh kendala tersebut dapat ditangani langsung melalui posko bantuan yang telah disiapkan di berbagai sekolah dan kantor dinas.
Febri menegaskan selama masa uji coba berlangsung, sistem aplikasi SPMB secara umum berjalan stabil tanpa gangguan besar.
Baca Juga: Pengakuan Pelaku Curanmor Surabaya Ngaku Beli Air Soft Gun di Jawa Tengah
“Alhamdulillah sistem lancar. Tidak ada error berjam-jam. Kalau ada kendala biasanya karena perangkat atau gawai yang digunakan warga saat mengakses mandiri,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat memanfaatkan sisa masa uji coba untuk mengecek seluruh data secara teliti sebelum tahapan resmi dimulai. Sebab, kesalahan kecil dalam pengisian data berpotensi memengaruhi proses seleksi nantinya.
Baca Juga: Dua Hari, Empat Kali Sapi Mengamuk di Surabaya, Ada yang Masuk Selokan
“Jangan menggampangkan. Dokumen dan tahapannya harus benar-benar dicek. Banyak anak yang bahkan submit saja masih takut kalau tidak didampingi orang tuanya,” tegas Febri.
Selain persoalan teknis, Dispendik juga melihat mayoritas orang tua masih menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan utama. Namun Pemkot Surabaya menegaskan kualitas sekolah swasta saat ini terus diperkuat agar mampu menjadi alternatif pendidikan yang kompetitif.
Baca Juga: Pengakuan Pelaku Curanmor Surabaya Ngaku Beli Air Soft Gun di Jawa Tengah
Pemkot Surabaya sendiri terus memberikan dukungan terhadap sekolah swasta melalui bantuan operasional pendidikan daerah (Bopda) dan penguatan mutu pembelajaran.
“Kalau belum beruntung di negeri, sekolah swasta terdekat juga punya kualitas yang baik karena semuanya kami support, termasuk lewat Bopda,” pungkasnya. (dim/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya