RADAR SURABAYA - Kejadian unik namun menegangkan terjadi di Kota Surabaya selama dua hari terakhir.
Sebanyak empat kejadian sapi kurban mengamuk dan lepas kendali dilaporkan terjadi di berbagai kawasan.
Hewan kurban tersebut tidak hanya berontak saat diturunkan dari kendaraan, namun ada yang hingga lari tak terkendali dan jatuh masuk ke dalam selokan, sungai, bahkan lubang saluran air yang sangat dalam.
Kejadian bermula sejak Selasa (26/5) atau H-1 Idul Adha. Di kawasan Benowo, seekor sapi tiba-tiba berontak hebat saat hendak dikeluarkan dari mobil pikap, hingga akhirnya hewan itu terperosok masuk ke selokan.
Baca Juga: Sapi Kurban Presiden Prabowo Mengamuk di Masjid Al-Akbar Surabaya
Masih di hari yang sama, kejadian serupa terjadi di kawasan Royal Residence, Wiyung. Saat hendak diikat, seekor sapi tiba-tiba berlari liar dan mengamuk.
Belum selesai ketegangan di dua lokasi, di kawasan Karah Indah, Jambangan, dua ekor sapi juga terlepas ikatannya setelah diturunkan dari kendaraan.
Baca Juga: Sudah Tembus Rp 140.000 per Kg, Bapanas Pastikan Daging Sapi di Pasaran Masih Sesuai Harga Acuan
Keduanya sama-sama panik, berlarian, dan akhirnya masuk ke dalam selokan. Puncaknya, pada Rabu (27/5) dini hari sekitar pukul 03.15 WIB, insiden paling serius terjadi di Sememi, Benowo.
Seekor sapi terlepas dan melompat masuk ke dalam lubang saluran sedalam 60 meter. Akibat jatuh dari ketinggian tersebut, sapi itu mengalami cedera parah berupa patah kaki dan leher.
Baca Juga: Kejar-kejaran Dini Hari, Polisi Probolinggo Gagalkan Aksi Pencurian Sapi
Petugas Penyelamatan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya pun harus mengerahkan alat berat berupa crane untuk melakukan evakuasi.
Kepala Bidang Pemadaman DPKP Surabaya, M Rokhim, mengatakan adanya empat insiden sapi mengamuk dalam kurun waktu singkat disebabkan kondisi stres, kaget, dan ketakutan akibat lingkungan baru serta keramaian.
"Biasanya kalau sapi itu tuh takut. Karena tempatnya di kandang terus banyak anak-anak nonton, terus dia jadi takut terus lari-lari, akhirnya kecemplung. Semua kasus itu penyebabnya hampir sama, kaget dan stres," ungkap Rokhim, Rabu (27/5).
Dari keempat kasus tersebut, Rokhim mengaku evakuasi yang paling sulit dan memakan waktu terlama justru adalah insiden yang terjadi dini hari tadi di Sememi.
Meski bobot sapi yang jatuh ke lubang tersebut terbilang sedang, tidak sampai setengah ton, namun lokasi jatuhnya yang berada di dalam lubang saluran sempit dan sangat dalam membuat tim rescue kesulitan dalam mengevakuasi.
Butuh waktu hingga 2 jam dan penggunaan unit penanganan khusus hingga akhirnya hewan tersebut berhasil ditarik ke atas.
"Yang lama itu yang tadi dini hari di Sememi, butuh waktu sekitar 2 jam. Soalnya harus pakai unit HDR. Lubangnya dalam dan sempit, jadi sulit aksesnya. Besarnya enggak terlalu besar, paling enggak sampai setengah ton kayaknya, tapi karena faktor kedalaman itulah yang menyulitkan," jelasnya.
Rokhim merinci keempat lokasi kejadian tersebut meliputi kawasan Raci, Jambangan, Babatan, dan Sememi.
Dari empat kasus itu, ia menyebut ada satu ekor hanya berlari, sedangkan tiga ekor lainnya terjatuh masuk ke saluran air atau selokan.
Beruntung, meski sempat membuat warga panik dan heboh, tidak ada laporan korban jiwa maupun warga yang terluka akibat seruduk atau tendangan sapi.
"Yang satu cuma lari, yang tiga cemplung. Tapi syukurnya enggak ada korban manusia, enggak ada yang kena seruduk atau terluka, cuma sapinya saja yang mengalami stres dan cedera," tegasnya.
Menyadari tingginya risiko insiden serupa menjelang dan saat hari H Idul Adha, DPKP Surabaya telah bersiaga penuh.
Sebanyak 20 personel tim penyelamatan (rescue) disiapkan dalam setiap pergantian shift, baik pagi maupun siang, untuk merespons cepat jika ada laporan serupa di lapangan.
"Tim kami itu kan sudah dibagi per harinya, kurang lebih per shift-nya, shift pagi, siang itu sekitar 20-an personel standby. Jadi kami siap merespons kapan saja," pungkasnya. (rmt/vga)