RADAR SURABAYA -- Di tengah derasnya arus globalisasi di kalangan generasi muda, Pemkot Surabaya justru sukses membawa bahasa daerah naik kelas. Berkat berbagai inovasi pelestarian budaya di sekolah, Kota Pahlawan berhasil meraih Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Penghargaan tersebut diberikan dalam puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) di Gedung Garuda Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Senin (25/5). Salah satu program yang menjadi perhatian nasional ialah Kemis Mlipis, yakni pembiasaan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah setiap Kamis.
Baca Juga: Anggota DPRD Surabaya Budi Leksono Reses, Warga Keluhkan SPP Mahal dan Sulit Cari Kerja
Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Febrina Kusumawati mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa daerah bisa dilakukan dengan cara kreatif dan relevan dengan dunia anak muda saat ini.
“Pemkot Surabaya bangga dengan penghargaan ini. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi menjaga bahasa daerah agar tetap dekat dengan generasi muda,” kata Febri.
Menurut dia, program pelestarian bahasa Jawa di Surabaya tidak lagi sekadar formalitas pembelajaran di kelas, tetapi mulai dibangun menjadi budaya sehari-hari di sekolah.
Melalui Kemis Mlipis, siswa, guru, hingga tenaga pendidik dibiasakan berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa selama satu hari penuh. Menariknya, program tersebut juga dikemas melalui berbagai konten kreatif di media sosial sekolah agar terasa lebih dekat dengan keseharian pelajar.
“Selama satu hari penuh sekolah membiasakan penggunaan bahasa Jawa dengan berbagai kreativitas. Bahkan, inovasi-inovasi sekolah juga rutin dibagikan melalui media sosial,” ujarnya.
Tak hanya melalui pembelajaran di kelas, Dispendik Surabaya juga aktif menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu yang melibatkan pelajar dalam berbagai lomba berbasis budaya Jawa. Mulai dari nembang, ndongeng, maca geguritan, karawitan, dhagelan tunggal, pidato bahasa Jawa, hingga menulis aksara Jawa. Febri menilai pendekatan berbasis kreativitas menjadi kunci penting agar siswa tidak merasa terbebani saat belajar bahasa daerah.
“Anak-anak sekarang harus diajak mencintai budaya dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka,” katanya.
Ke depan, Pemkot Surabaya berencana memperluas program pelestarian bahasa daerah melalui kegiatan ekstrakurikuler dan integrasi budaya lokal dalam aktivitas sekolah sehari-hari.
“Harapannya, bahasa Jawa bukan hanya dipelajari, tetapi benar-benar digunakan dan menjadi bagian dari karakter generasi muda Surabaya,” pungkasnya. (dim)
Editor : Lambertus Hurek