RADAR SURABAYA - Kunjungan siswa-siswi SMA Progresif Bumi Shalawat ke RS Menur Surabaya pada 13 April 2026 lalu menjadi bagian dari pelaksanaan program Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan tersebut bertujuan mengamati secara langsung kondisi pasien anak dan remaja yang sedang menjalani perawatan gangguan kejiwaan.
Di ruang rehabilitasi RS Menur, para siswa mendapati suasana yang cukup memprihatinkan. Terdapat sedikitnya sembilan pasien anak dan remaja yang sedang menjalani rawat inap.
Mereka datang dengan latar belakang persoalan yang beragam. Mulai dari kecanduan game, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga menjadi korban perundungan.
Baca Juga: Cegah Krisis Mental Mahasiswa, Unesa Perkuat Literasi Lewat Bedah Buku Psikologi
Direktur RS Menur Surabaya, drg Vitria Dewi, mengatakan kasus gangguan mental pada anak dan remaja menunjukkan tren peningkatan. Menurutnya, prevalensi gangguan mental lebih banyak ditemukan pada remaja laki-laki.
“Kami mendata sejak 2023 jumlah pasien yang menjalani rawat jalan di RS Menur terus meningkat, terutama pada laki-laki,” ujarnya.
Baca Juga: Perubahan Iklim Tak Hanya Ancam Bumi, Kesehatan Mental Ikut Terdampak
Salah seorang perawat yang mendampingi siswa menuturkan, banyak pasien yang dirawat mengalami depresi dan stres berat akibat persoalan di lingkungan keluarga, khususnya KDRT.
Kondisi tersebut kemudian memicu gangguan mental yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Baca Juga: Silent Walking, Tren Sederhana Gen Z untuk Jaga Kesehatan Mental
Sebagian pasien, lanjutnya, kerap menunjukkan perilaku emosional seperti mudah marah, mengamuk, hingga sulit mengendalikan diri.
Namun, suasana di ruang rehabilitasi berubah lebih hangat saat para siswa SMA Progresif Bumi Shalawat hadir. Melalui interaksi sederhana dan kegiatan bermain bersama, para pasien tampak lebih terbuka dan ceria.
Kehadiran para siswa di ruang rehabilitasi bertujuan memberikan hiburan sekaligus dukungan moral bagi pasien. Aktivitas tersebut diharapkan dapat membantu proses pemulihan serta mempersiapkan mereka untuk kembali menjalani kehidupan di luar rumah sakit dengan lebih baik.
Melalui kegiatan itu, Vitria Dewi juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental sejak dini. Menurutnya, persoalan mental yang tidak ditangani dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
“Tidak semua luka terlihat. Ada luka yang disimpan dalam diam, tetapi dampaknya bisa bertahan lama,” pungkasnya. (karendra/vga)
Editor : Vega Dwi Arista