RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat transformasi digital melalui pengembangan Surabaya Intelligent Transport System (SITS) yang kini tak hanya berfungsi mengurai kemacetan, tetapi juga menjadi “mata kota” untuk memantau berbagai aktivitas perkotaan secara real time.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menegaskan, penguatan sistem digital dilakukan sebagai bagian dari upaya menjadikan Surabaya sebagai kota modern dengan pelayanan publik yang cepat, nyaman, dan terintegrasi.
“Kalau dulu Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, hari ini Surabaya harus mampu menjadi smart city yang memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi warganya,” ujar Eri, Kamis (7/5).
Baca Juga: DPRD Surabaya Minta Hotline Lapor Cak Eri Bisa Dipantau Real Time
Salah satu fondasi utama transformasi digital itu adalah penerapan SITS yang kini didukung lebih dari 1.000 titik CCTV di berbagai ruas jalan Kota Surabaya. Sistem tersebut memungkinkan pemantauan kondisi lalu lintas secara langsung sekaligus membantu percepatan penanganan kepadatan maupun insiden di jalan.
Tak hanya itu, pengembangan smart city juga diperkuat lewat integrasi transportasi publik yang mulai menunjukkan tren positif. Data Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya mencatat pengguna transportasi umum meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Baca Juga: Meriahkan Hari Menggambar, 85 Perupa Tampilkan Karya Nusantara di Alun-Alun Surabaya
Pada 2023, jumlah pengguna transportasi umum tercatat sekitar 1,9 juta penumpang. Angka tersebut naik menjadi 3,5 juta penumpang pada 2024 dan melonjak hingga 7 juta penumpang sepanjang 2025. Hingga Maret 2026 saja, jumlah pengguna sudah mencapai 1,8 juta orang.
Menurut Eri, peningkatan itu dipicu oleh integrasi layanan antara Suroboyo Bus dan feeder Wira-Wiri, pembayaran nontunai, hingga aplikasi digital “Gobis” yang memudahkan masyarakat memantau transportasi secara real time.
Baca Juga: BPOM Tarik 11 Kosmetik Berbahaya, Ada Brand Sejuta Umat
“Kalau ingin masyarakat mau beralih ke transportasi umum, maka transportasi itu harus nyaman terlebih dahulu,” katanya.
Selain transportasi, digitalisasi juga diterapkan dalam penataan kawasan kota. Salah satunya melalui revitalisasi kawasan Kota Lama yang kini dikembangkan dengan konsep heritage modern berbasis teknologi dan kenyamanan kawasan.
Baca Juga: Haji 2026: Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Langsung Kenakan Ihram, Arab Saudi Sebut Jatim Terbaik
Pemkot Surabaya juga melakukan penataan utilitas dengan memindahkan kabel-kabel ke bawah tanah untuk menciptakan lanskap kota yang lebih rapi dan aman. Ke depan, kawasan Kota Lama akan terintegrasi dengan kawasan Pecinan dan Kampung Arab sebagai koridor wisata sejarah.
“Smart city bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana menghadirkan pelayanan publik yang cepat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegas Eri.
Transformasi digital tersebut juga mulai menyentuh level pelayanan warga melalui program satu ASN satu RW yang terhubung dengan sistem digital terpadu.
Baca Juga: Diduga Micro Sleep, Mobil Tabrak Truk di Jembatan Suramadu Sisi Surabaya
Ketua RT 2 Perak Barat, Boni Wikantono, mengatakan aplikasi Sayang Warga sangat membantu percepatan administrasi dan koordinasi di lingkungan masyarakat.
“Mulai dari kerja bakti, kegiatan warga, sampai administrasi dan pelaporan semua bisa dipantau melalui aplikasi Sayang Warga. Warga juga bisa langsung mengaksesnya, jadi koordinasi jauh lebih mudah dan cepat,” ujarnya.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Angkat UMKM di Batik Bordir & Aksesoris Fair Surabaya
Sementara itu, warga Surabaya bernama Ella mengaku mulai merasakan dampak nyata penerapan smart city dalam kehidupan sehari-hari.
“Program-programnya sangat terasa manfaatnya. Kota jadi lebih tertata, lebih bersih, dan pelayanan juga lebih cepat,” katanya.(dim/gun)
Editor : Guntur Irianto