RADAR SURABAYA - Penyakit Tuberkulosis (TB) menjadi salah satu perhatian utama dalam pemeriksaan kesehatan jemaah haji tahap ketiga di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.
Skrining terhadap penyakit yang bersifat menular ini menjadi salah satu syarat utama yang dipantau secara ketat, karena dapat membahayakan kesehatan orang lain selama perjalanan maupun saat melaksanakan ibadah di Tanah Suci.
Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, Rosidi Roslan menjelaskan bahwa setiap calon jemaah telah melalui proses pemeriksaan ketat untuk mendeteksi adanya penyakit. Bagi yang hasilnya menunjukkan positif dipastikan tidak diperbolehkan berangkat.
Baca Juga: Viral di Medsos, Siswa TK dan SD Meninggal Gara-Gara Ikut Tren Freestyle
“Kami melakukan pemeriksaan khusus untuk mendeteksi TB. Jika hasilnya positif dan masih dalam keadaan aktif serta menular, dipastikan tidak dapat berangkat. Namun jika hasil pemeriksaan sudah negatif, meskipun memiliki riwayat sakit ini, maka masih diperbolehkan berangkat," tuturnya, Selasa (5/5).
Lebih lanjut ia menyebut ada jemaah yang berangkat dengan kondisi seperti ini namun dalam pendampingan berupa obat secara teratur bagi mereka yang masih dalam proses pemulihan.
Rosidi mengaku dari hasil pemeriksaan yang dilakukan sampai dengan saat ini, terdapat 21 orang yang menjalani pemeriksaan lebih lanjut karena memiliki indikasi gejala penyakit TB.
Baca Juga: Haji 2026: Banyak Open Seat Haji di Embarkasi Surabaya, Aturan Manifest Ketat Jadi Kendala Utama
Namun dari jumlah tersebut, hanya satu orang saja yang dipastikan tidak dapat berangkat karena positif dan jemaah yang bersangkutan telah dirawat di RS Haji selama beberapa hari sebelum dipulangkan ke daerah karena tidak laik berangkat.
“Sebanyak 21 orang kami lakukan pengujian khusus karena ada indikasi gejalanya. Namun bukan berarti semuanya positif. Kalau hasilnya positif pasti tidak berangkat. Tapi kalau dia TB tapi hasil pemeriksaan BTA-nya negatif, itu bisa (berangkat, Red). Ada beberapa orang yang tetap berangkat karena sudah terkontrol," tutur pria yang juga menjabat Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya ini.
Bagi jemaah yang kondisinya masih belum stabil, pihaknya akan mengupayakan perawatan terlebih dahulu.
Baca Juga: PGRI Jatim Prihatin Banyak Guru Dipidanakan, Minta UU Perlindungan
Jika dalam rentang waktu kloter berikutnya hasil pemeriksaan menunjukkan lebih baik dan dinyatakan negatif, maka jemaah tersebut masih memungkinkan untuk diberangkatkan.
Terkait satu jemaah asal Pasuruan yang dinyatakan positif TB aktif, PPIH telah melakukan langkah koordinasi resmi dengan Dinas Kesehatan setempat.
Hal ini dilakukan agar pasien mendapatkan penanganan intensif serta mencegah penularan di lingkungan keluarga.
"Dinas Kesehatan sudah kita kasih tahu secara resmi melalui surat mengapa yang bersangkutan tidak berangkat. Puskesmas juga harus mewaspadai ini supaya bisa mengontrol dengan baik, apalagi keluarganya, jangan sampai tertular karena ini sifatnya menular aktif," tegas Rosidi.
Mengingat kondisi di Arab Saudi yang akan dipenuhi kerumunan orang, pihak kesehatan pihaknya tetap menyarankan penggunaan masker bagi jemaah, terutama bagi mereka yang merasa kondisi fisiknya sedang menurun atau mengalami gangguan kesehatan seperti batuk.
Baca Juga: Surabaya Resmi Terapkan Voucher Parkir Digital
"Kalau yang sehat sebenarnya tidak perlu masker. Tapi bagi jemaah yang kondisinya ada gangguan kesehatan, seperti batuk, kita sarankan pakai masker saat di kerumunan karena memang kondisinya orang banyak sekali," jelasnya.
Hingga saat ini, tim medis terus memantau kesehatan tujuh calon jemaah di Rumah Sakit Haji Surabaya maupun di lingkungan asrama guna memastikan seluruh jemaah yang terbang ke tanah suci dalam kondisi prima dan tidak membawa risiko penularan penyakit. (rmt)
Editor : Nurista Purnamasari