RADAR SURABAYA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana menutup sejumlah program studi yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri. Kebijakan tersebut dinilai mempertegas arah pendidikan nasional yang semakin berorientasi pada kepentingan pasar kerja.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Radius Setiyawan menilai kebijakan itu menunjukkan kesinambungan paradigma pendidikan nasional sejak era Orde Baru.
“Sejak Orde Baru, kita sudah mengenal diksi pembangunan, modernisasi, hingga konsep link and match dengan industri,” ujarnya, Selasa (5/5).
Baca Juga: Nostalgia dan Refleksi Zaman melalui ‘Jaman Semono’ Warnai Pameran Lukisan Alumni Unipa Surabaya
Menurut Radius, konsep link and match merujuk pada keterhubungan antara dunia pendidikan dengan industri sebagai pengguna lulusan, serta kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja. Namun, ia menilai pendekatan tersebut perlu dikritisi karena berpotensi mempersempit fungsi pendidikan.
“Secara kritis, konsep link and match berpotensi melahirkan manusia yang kurang kritis, hanya berorientasi material, dan difokuskan sebagai tenaga kerja di sektor industri,” tegasnya.
Ia menilai, orientasi pendidikan Indonesia saat ini belum banyak berubah dibanding era sebelumnya. Narasi seperti mengejar ketertinggalan, modernisasi pendidikan, hingga penyesuaian terhadap kebutuhan industri masih menjadi dasar kebijakan pendidikan nasional.
Menurutnya, gagasan ‘mengejar ketertinggalan’ yang terus diulang dalam wacana pembangunan telah menjadi legitimasi untuk mendorong masyarakat meninggalkan cara pandang lama menuju modernisasi demi pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Inovasi Mobil Bertenaga Reaksi Kimia Karya Mahasiswa ITS Surabaya Jadi Pemenang ICRCC 2026
“Terjadi semacam demitologisasi pembangunan yang justru melahirkan mitos baru tentang keharusan mengejar ketertinggalan,” katanya.
Radius juga menyoroti bahwa kebijakan pendidikan yang terlalu menyesuaikan kebutuhan industri dapat menyeret dunia pendidikan ke logika pasar bebas. Dalam praktiknya, kata dia, arah pendidikan menjadi sangat ditentukan oleh kebutuhan sektor industri.
“Praktiknya menyerupai ruang pasar bebas, di mana arah pendidikan diserahkan pada kebutuhan industri,” katanya. (sam)
Editor : Lambertus Hurek