Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tampilkan Tari Bertajuk Kesadaran Napas, Sri Mulyani Ajak Audiens Menyelami Tubuh dan Kesadaran

Lambertus Hurek • Sabtu, 18 April 2026 | 05:49 WIB
Mulyani menampilkan tarian performatif bertajuk Kesadaran Napas di Yogyakarta. (IST
Sri Mulyani menampilkan tarian performatif bertajuk Kesadaran Napas di Yogyakarta. (IST) 

 

 RADAR SURABAYA – Karya tari bertajuk Kesadaran Napas dipentaskan di Studio Kalahan, Yogyakarta, Rabu (15/4/2026). Karya ini digarap Sri Mulyani, mahasiswa S3 Penciptaan Seni ISI Surakarta sekaligus dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari forum Sehari Boleh Gila: Spiritual Anarchy yang mengusung pendekatan artistik eksperimental dan reflektif.

Tidak seperti pertunjukan tari konvensional, Kesadaran Napas menawarkan pengalaman imersif. Audiens tidak sekadar menonton, tetapi terlibat langsung dalam ruang pertunjukan. Mereka diajak bergerak, merasakan, dan menyadari ritme napas sebagai bagian dari pengalaman artistik.

Baca Juga: Inter Milan Menggila! Hajar Cagliari 3-0, Scudetto Tinggal Hitungan Hari

Sri Mulyani mengatakan, karya ini berangkat dari kegelisahan terhadap keterasingan manusia modern. “Napas itu paling dekat dengan kita, tapi justru sering dilupakan. Dari situ saya ingin mengajak orang kembali ke kesadaran diri,” ujarnya.

Dalam pertunjukan tersebut, ruang dirancang secara instalatif. Audiens menjelajahi berbagai ruang dengan atmosfer yang cair dan terbuka. Salah satu elemen visual yang mencolok adalah figur astronot. Simbol ini merepresentasikan manusia modern yang terputus dari ritme alami tubuhnya sekaligus sedang mencari makna di tengah kehampaan.

Selain itu, terdapat instalasi kepala-kepala bersuara yang melantunkan tembang macapat karya perupa Heri Dono. Suara tersebut direspons langsung oleh Sri Mulyani melalui vokal yang menyatu dengan gerak tubuh. Interaksi ini menciptakan dialog antara tradisi, tubuh, dan kesadaran.

Melalui pendekatan tersebut, batas antara penari dan audiens menjadi kabur. Keduanya berbagi pengalaman sensorik yang intens. Tidak hanya melihat, tetapi juga mendengar dan merasakan.

Baca Juga: Vape Disetarakan dengan Rokok, Iklan hingga Kadar Nikotin Bakal Diatur

“Di sini tidak ada jarak antara penonton dan penari. Semua terlibat dalam pengalaman yang sama,” kata Sri.

Dia menambahkan, konsep Spiritual Anarchy dalam karya ini dimaknai sebagai keberanian untuk melampaui batas-batas kesadaran yang selama ini dianggap mapan. Dalam konteks itu, napas menjadi medium pembebasan yang sederhana, tetapi memiliki daya reflektif yang kuat.

Karya ini juga menjadi bagian dari pengembangan proyek besar bertajuk Ruang yang Bernapas. Proyek tersebut diarahkan sebagai eksplorasi lanjutan tentang hubungan antara tubuh, ruang, dan kesadaran dalam seni pertunjukan kontemporer.

Di tengah kesibukannya menempuh studi doktoral, keterlibatan Sri Mulyani dalam forum ini mendapat dukungan sejumlah akademisi. Prof M. Dwi Marianto menyampaikan izin kepada Prof Bambang Sunarto terkait partisipasi Sri, baik sebagai narasumber dalam bidang tari untuk penyandang disabilitas maupun sebagai koreografer yang menampilkan karya.

Menurut Sri, dukungan tersebut penting karena praktik artistik tidak hanya berhenti pada penciptaan karya, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pendidikan seni yang inklusif. “Seni harus bisa menjadi ruang refleksi sekaligus ruang perjumpaan bagi siapa saja,” ungkapnya.

Melalui Kesadaran Napas, Sri Mulyani tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menawarkan ruang kontemplasi. Sebuah ruang bagi audiens untuk kembali merasakan kehadiran diri melalui tubuh dan napas, di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan terfragmentasi. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#ISI Surakarta #kesadaran napas #Sri Mulyani #Koreografer Sri Mulyani #stkw surabaya