RADAR SURABAYA - Program renovasi Makam Eropa di Peneleh, Surabaya, pada tahun 2024 mulai membuahkan hasil. Dengan dukungan dana dari Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed (RCE) atau Lembaga Warisan Budaya Belanda, upaya ini menjadi jembatan penghubung antara ahli waris di luar negeri dengan tanah kelahiran nenek moyang mereka.
Tujuan renovasi bukan hanya perbaikan fisik, tetapi juga kemudahan akses informasi bagi keluarga yang ingin berziarah. Kabar mengenai perawatan makam tersebut pun terdengar hingga ke Belanda. Karena itu, mulai 2025 banyak pihak yang mulai menanyakan keberadaan makam keluarga mereka.
Baca Juga: Menteri PPN Dukung Hilirisasi Riset di ITS Surabaya
Salah satunya perwakilan keluarga Donkersloot, Michiel Eduard Donkersloot. Dia mengetahui lokasi makam leluhurnya melalui bantuan komunitas budaya Puri Aksara Rajapatni dan petugas pengelola makam.
Michiel akhirnya menemukan makam dengan nomor registrasi B 661 di Peneleh. Dia langsung berlutut di depan kuburan keluarga dan menyampaikan keinginan kuat untuk merestorasi makam leluhurnya tersebut. “Jika memungkinkan saya akan kerjakan sendiri,” ujar Michiel, Selasa (14/4).
Michiel menilai sangat penting adanya pengelolaan yang baik situs bersejarah ini. Kehadiran makam yang terawat menjadi bukti sejarah yang dijaga dengan baik, sehingga keluarga di luar negeri tetap bisa menziarahi dan mengenang sanak saudara mereka.
Baca Juga: Bahaya Tidur di Mobil dengan Mesin dan AC Menyala, Risiko Keracunan Mengintai
“Terima kasih, pemakaman ini ada yang urus,” katanya. Dalam kunjungannya itu, Michiel juga tidak lupa mampir dan menghormati makam Herman Van der Tuuk, ahli bahasa dan peletak dasar ilmu linguistik Nusantara, yang juga dimakamkan di lokasi yang sama.
Nanang Purwono, pegiat sejarah, menyebut kehadiran keluarga Donkersloot ini menjadi bukti nyata bahwa renovasi yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek fisik bangunan, tetapi juga aspek emosional dan historis. Ini membuka peluang bagi ahli waris lainnya untuk turut serta melestarikan makam keluarga mereka di Surabaya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek