RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai menggeser strategi penanganan banjir dari sekadar pembangunan rumah pompa menjadi sistem terintegrasi yang menghubungkan saluran air hingga ke tingkat perkampungan.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, pendekatan baru ini dilakukan untuk memastikan aliran air mengalir lancar dari hulu ke hilir sebelum akhirnya dipompa ke laut.
“Saluran yang ada kita koneksikan, setelah itu baru dimasukkan ke rumah pompa dan dibuang ke laut. Ini yang kita lakukan, koneksi-koneksi itu,” kata Eri di ruang kerjanya.
Baca Juga: BNNP Jatim Tak Puas, Buru Pengendali Dua Kurir Satu Kilogram Sabu di Surabaya
Menurutnya, strategi ini menjadi kunci agar genangan tidak hanya ditangani di titik akhir, tetapi juga dicegah sejak dari lingkungan permukiman warga.
Namun di balik upaya tersebut, Pemkot Surabaya dihadapkan pada tantangan besar, salah satunya tingginya biaya operasional rumah pompa, terutama terkait kebutuhan daya listrik.
Baca Juga: Komisi C DPRD Jatim Sebut Efisiensi BUMD Harus Tepat Sasaran
“Makanya kami akan berkoordinasi dengan PLN, apakah untuk fasilitas umum bisa dikurangi biayanya. Ini kan untuk pelayanan publik, bukan untuk kepentingan satu dua orang,” ungkapnya.
Selain penguatan sistem, pemkot juga terus menambah infrastruktur pendukung, termasuk pembangunan rumah pompa baru di kawasan Simo Kalangan dan Tanjungsari.
Baca Juga: Manchester City vs Liverpool di FA Cup: Prediksi, Kabar Tim, dan Peluang Lolos ke Semifinal
Di sisi lain, penanganan banjir juga menyasar persoalan klasik yang selama ini menjadi hambatan, yakni penyempitan saluran air akibat pemukiman padat.
Salah satu fokus penataan berada di kawasan Kalianak, di mana lebar sungai yang semula mencapai 30 meter kini menyusut drastis hingga sekitar 50 sentimeter.
Baca Juga: Anak Down Syndrome Surabaya Tampil Percaya Diri di Peringatan HDSD Jatim
Karena itu, Pemkot Surabaya akan melakukan penertiban kawasan guna mengembalikan fungsi saluran air seperti semula.
“Maka di sini perlu dilakukan gerakan bersama masyarakat, saling memahami. Tidak menunjukkan siapa yang kuat, tapi kita saling memahami,” ujar Eri.
Ia menegaskan, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan kolaborasi masyarakat.
“Selain membuat rumah pompa, kami juga mengembalikan fungsi saluran air,” pungkasnya.
Dengan pendekatan terintegrasi ini, Pemkot Surabaya optimistis penanganan banjir dapat lebih efektif dan berkelanjutan, sekaligus meminimalisir genangan hingga ke kawasan permukiman warga.(dim/gun)
Editor : Guntur Irianto