RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) memastikan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP tahun 2026 digelar berbasis komputer dengan skema bertahap.
Model ini tidak hanya menyesuaikan kapasitas perangkat di sekolah, tetapi juga dirancang untuk menjamin keadilan, transparansi, dan akurasi hasil.
Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, menjelaskan bahwa TKA merupakan mandat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI sebagai instrumen untuk mengukur capaian akademik siswa.
Baca Juga: Waspada! Jatim Hadapi Bencana Ganda 2026: Banjir Belum Usai, Kekeringan Sudah Mengintai
“TKA ini bukan penentu kelulusan, melainkan alat ukur kemampuan akademik siswa secara lebih komprehensif,” ujarnya, Jumat (27/3).
Pelaksanaan TKA tidak lagi dilakukan serentak dalam satu hari seperti ujian konvensional. Ujian dibagi dalam beberapa gelombang dan sesi, menyesuaikan jumlah perangkat di masing-masing sekolah.
Satu komputer dapat digunakan bergantian oleh beberapa siswa, sementara setiap sesi menggunakan paket soal berbeda.
Baca Juga: Marc Marquez Menggila di MotoGP Amerika 2026, Catatan Waktu Tercepat Bikin Rival Kaget
“Dengan sistem gelombang dan soal berbeda di tiap sesi, kami pastikan pelaksanaan tetap adil bagi seluruh peserta,” jelas Febrina.
TKA tahun ini menyasar puluhan ribu siswa. Untuk jenjang SD, tercatat 642 satuan pendidikan dengan total 35.602 peserta, terdiri dari 20.849 siswa sekolah negeri dan 14.753 siswa sekolah swasta.
Sementara jenjang SMP melibatkan 321 satuan pendidikan dengan total 34.381 peserta, terdiri dari 16.908 siswa sekolah negeri dan 17.473 siswa sekolah swasta.
Baca Juga: Tiga Kali Beruntun! Veda Ega Pratama Lagi-Lagi Lolos Q2 Moto3 Amerika
Febrina menegaskan bahwa TKA mengadopsi berbagai moda pelaksanaan, mulai dari full online hingga semi online, baik dengan token online maupun offline untuk mengantisipasi keterbatasan jaringan.
“Untuk mendukung inklusivitas, siswa dengan disabilitas netra difasilitasi menggunakan screen reader,” terangnya.
Dari sisi substansi, TKA berfokus pada penguatan literasi dan numerasi. Materi yang diujikan hanya mencakup Matematika dan Bahasa Indonesia, namun berbasis penalaran dan pemecahan masalah.
“Yang diukur adalah kemampuan analitik dan logika siswa dalam memahami persoalan, bukan sekadar hafalan,” tegas Febrina.
Baca Juga: Berani Ambil Risiko! John Herdman Tunjukkan Taktik Cerdas Meski Baru Kenal Pemain Timnas Indonesia
Pelaksanaan TKA untuk jenjang SMP dijadwalkan berlangsung pada 6–16 April 2026, sementara jenjang SD pada 20–30 April 2026.
Ujian dilaksanakan dalam beberapa gelombang, dengan durasi mencakup latihan, ujian utama, serta survei karakter.
Pemkot Surabaya memastikan kesiapan infrastruktur secara menyeluruh, mulai dari perangkat komputer, jaringan internet, hingga dukungan listrik.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya, Sabtu 28 Maret 2026, Potensi Hujan Disertai Petir
Koordinasi lintas sektor dilakukan dengan instansi pemerintah provinsi, penyedia layanan telekomunikasi, serta PLN.
“TKA ini kita kawal bersama agar berjalan kredibel dan mampu memberikan gambaran nyata kualitas pendidikan,” ujar Febrina.
Sistem pengawasan juga diperketat melalui mekanisme pengawas silang antar satuan pendidikan serta pemantauan terpusat.
Baca Juga: Sejarah Lebaran Ketupat: Tradisi Wali Songo yang Menjadi Simbol Syukur dan Kebersamaan
“Ke depan, TKA diharapkan tidak hanya menjadi alat evaluasi, tetapi juga pijakan dalam memperbaiki sistem pembelajaran secara menyeluruh,” tutup Febrina. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari