RADAR SURABAYA – Ketua DPRD Jawa Timur, Musyafak Rouf mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran 2026 untuk mengutamakan keselamatan selama di perjalanan.
Ia menegaskan, keselamatan diri dan keluarga harus menjadi prioritas utama dibandingkan keinginan cepat sampai di kampung halaman.
Musyafak meminta para pemudik mematuhi seluruh rambu lalu lintas dan menjaga kondisi fisik saat berkendara.
Menurutnya, memaksakan diri berkendara dalam kondisi lelah atau mengantuk sangat berbahaya dan berpotensi memicu kecelakaan.
“Patuhi rambu lalu lintas dan jangan memaksakan diri jika mengantuk. Lebih baik terlambat sampai tujuan daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, kepada Radar Surabaya, Senin (16/3).
Selain itu, Musyafak juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada ketika melintasi perlintasan kereta api sebidang. Khususnya yang tidak dilengkapi palang pintu maupun penjaga.
Berdasarkan data yang diterimanya, dari total 1.001 perlintasan kereta api sebidang di Jawa Timur, terdapat 295 perlintasan yang tidak memiliki penjaga maupun palang pintu pengaman.
Kondisi ini dinilai memiliki potensi risiko tinggi bagi pengguna jalan, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran yang biasanya meningkat signifikan.
Baca Juga: Arsenal Menggila! Hajar Leverkusen 2-0, Lolos Perempat Final Liga Champions
“Perlintasan kereta api tanpa penjaga dan tanpa palang pintu harus menjadi perhatian khusus bagi para pengendara. Pastikan benar-benar aman sebelum melintas,” katanya.
Ia juga mengingatkan pemudik agar tidak terburu-buru saat melintasi jalur kereta api.
Pemudik juga diminta selalu berhenti sejenak untuk memastikan tidak ada kereta yang melintas.
Musyafak berharap seluruh masyarakat dapat menjalani perjalanan mudik dengan aman dan nyaman sehingga dapat berkumpul bersama keluarga di kampung halaman tanpa risiko kecelakaan.
Baca Juga: Sering Jadi Favorit Saat Berbuka, Beberapa Takjil Ini Sebaiknya Tidak Dikonsumsi Berlebihan
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Mudik adalah momen bahagia, jangan sampai berubah menjadi musibah,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa