RADAR SURABAYA - Cuaca di Surabaya pada Rabu (18/3) diperkirakan didominasi kondisi panas pada siang hari, kemudian berlanjut hujan yang meningkat pada sore hingga malam. Warga yang memiliki aktivitas di luar rumah disarankan tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama menjelang petang.
Pada dini hari hingga pagi, cuaca relatif stabil dengan kondisi berawan hingga cerah berawan. Suhu udara berada di kisaran 25–27 derajat Celsius pada pukul 00.00 hingga 07.00. Kelembapan udara cukup tinggi, berkisar 80–90 persen, dengan angin bertiup lemah sekitar 2–5 km per jam. Peluang hujan pada periode ini relatif kecil.
Baca Juga: Penitipan Hewan di Surabaya Ramai Jelang Lebaran, Pemilik Tak Perlu Khawatir Bisa Pantau Melalui HP
Memasuki pagi menjelang siang, suhu udara mulai meningkat. Pada pukul 08.00 hingga 12.00, suhu mencapai 28–31 derajat Celsius. Cuaca cenderung cerah berawan, namun tetap ada peluang hujan ringan. Kelembapan udara berkisar 65–75 persen dengan angin bertiup perlahan.
Pada siang hingga sore hari, potensi hujan mulai muncul. Sekitar pukul 13.00 hingga 16.00 diperkirakan terjadi hujan lokal hingga hujan petir ringan.
Suhu udara berada di kisaran 30–32 derajat Celsius. Intensitas hujan meningkat bertahap dengan curah hujan mulai dari sekitar 0,2 hingga 0,6 milimeter.
Memasuki malam hari, hujan diperkirakan semakin merata. Pada pukul 17.00 hingga 22.00, hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Surabaya.
Suhu udara turun menjadi 26–29 derajat Celsius dengan kelembapan meningkat hingga di atas 80 persen. Curah hujan pada malam hari diperkirakan bisa mencapai lebih dari 1 milimeter.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama saat arus mudik dan masa libur panjang Lebaran pekan ini.
Warga diingatkan agar berhati-hati saat berkendara di tengah hujan lebat dan angin kencang, serta menghindari wisata ke kawasan rawan longsor. Selain itu, masyarakat diminta terus memantau informasi cuaca terbaru guna mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi. (*)
Editor : Lambertus Hurek