RADAR SURABAYA – Tren belanja melalui online shop semakin mendominasi menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Kemudahan transaksi, banyaknya promo, serta pilihan produk yang beragam membuat masyarakat beralih dari toko konvensional ke platform digital. Fenomena ini dinilai tak terelakkan dan menjadi tantangan baru bagi pelaku UMKM di Kota Surabaya. Ini mendapat perhatian DPRD Surabaya.
Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Baktiono, mengatakan perkembangan bisnis digital saat ini terjadi di semua sektor, mulai dari pedagang besar hingga pelaku usaha kecil. Bahkan, tidak sedikit penjual yang bukan produsen maupun distributor, tetapi mampu meraih keuntungan dengan menjadi perantara penjualan secara online.
“Kita tidak bisa menghindari fenomena bisnis digital, baik skala besar maupun kecil. Banyak yang bukan produsen atau distributor, tetapi bisa menjualkan barang milik orang lain dan berhasil dengan metode digital,” kata Baktiono, Senin (16/3).
Baca Juga: Libur Panjang Lebaran, Pemkot Surabaya Pastikan Rumah Sakit dan Puskesmas Tetap Buka Normal
Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat harus disikapi dengan kesiapan pelaku usaha lokal agar tidak tertinggal. Ia menilai digitalisasi justru membuka peluang baru jika dimanfaatkan dengan baik.
Namun di sisi lain, Baktiono juga mengingatkan adanya praktik persaingan tidak sehat di dunia online, seperti penjualan di bawah harga pasar hingga penipuan yang merugikan konsumen.
Baca Juga: Jelang Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubenur BI Besok, Ekonom Proyeksi BI-Rate Tetap 4,75 Persen
“Ada juga yang menjual di bawah harga produsen atau distributor, bahkan dengan cara yang tidak benar. Ini yang harus diwaspadai, karena bisa merugikan masyarakat dan pedagang yang jujur,” ujarnya.
Untuk menghadapi persaingan tersebut, Pemerintah Kota Surabaya dinilai telah menyiapkan berbagai langkah agar pelaku UMKM mampu bersaing di era digital. Salah satunya melalui pelatihan, pendampingan, hingga penyediaan platform pemasaran berbasis daring.
Baca Juga: Komisi III DPR Pastikan Awasi Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis Andrie Yunus
Baktiono menyebut, pelaku UMKM di Surabaya sudah didorong untuk memanfaatkan teknologi dalam memasarkan produk, baik makanan maupun nonmakanan. “UMKM di Kota Surabaya sudah dididik, dilatih, bahkan difasilitasi supaya bisa berjualan secara digital. Mereka juga dibantu melalui aplikasi E-Peken milik Pemkot Surabaya,” jelasnya.
Selain melalui platform digital, Pemkot Surabaya juga menyediakan ruang promosi bagi pelaku usaha kecil menengah agar produknya lebih dikenal masyarakat. Salah satunya melalui ruang pamer yang berada di Mall Pelayanan Publik Siola.
Baca Juga: Jelang Periode Libur Lebaran BRI Imbau Nasabah Waspada Penipan Modus File .APK
“Produk UMKM juga dipasarkan lewat Dinas Koperasi dan UMKM, termasuk di ruang pamer yang ada di Siola. Tujuannya supaya pelaku usaha kecil di Surabaya bisa berdaya dan mandiri,” tambahnya.
Baktiono berharap pelaku usaha lokal tidak hanya mengandalkan cara lama dalam berdagang, tetapi mulai memanfaatkan teknologi agar tetap mampu bersaing di tengah perubahan perilaku konsumen, terutama saat momentum belanja besar seperti menjelang Lebaran.
Baca Juga: Menhub Ancang-Ancang Tindak Tegas Truk Nakal! Ribuan Pelanggar SKB Lebaran 2026 Terjaring Razia
“Sekarang zamannya digital. Kalau tidak mengikuti perkembangan, tentu akan kalah saing. Tapi kalau bisa memanfaatkan, justru peluangnya lebih besar,” pungkasnya. (dim/gun)
Editor : Guntur Irianto