RADAR SURABAYA - Menjalankan ibadah puasa membuat sebagian orang harus menyesuaikan jadwal konsumsi obat dengan waktu makan.
Penyesuaian ini penting agar efektivitas obat tetap terjaga selama Ramadan.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (FF Ubaya), Apt. Steven Victoria Halim, M.Farm., menjelaskan, ada beberapa jenis makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari saat mengonsumsi obat ketika berpuasa.
Hal ini berkaitan dengan proses penyerapan obat di dalam tubuh.
“Secara garis besar, ada beberapa makanan yang perlu dihindari agar penyerapan obat tetap optimal,” ujar Steven, Kamis (12/3).
Ia menyebutkan, makanan tinggi lemak seperti gorengan, makanan bersantan kental, hingga jeroan dapat memperlambat proses pengosongan lambung.
Kondisi tersebut berpotensi menghambat penyerapan obat di usus.
Selain itu, makanan pedas dan asam seperti sambal, acar, atau minuman asam, juga sebaiknya dibatasi.
Jenis makanan ini dapat meningkatkan risiko iritasi lambung.
“Terutama jika dikonsumsi bersamaan dengan obat yang memiliki efek samping pada lambung,” lanjutnya.
Sementara itu, makanan dan minuman manis seperti kolak, sirup, dan kue manis juga perlu dibatasi.
Konsumsi gula berlebihan dapat memicu lonjakan kadar gula darah.
”Terutama bagi penderita diabetes yang sedang menjalani terapi obat penurun gula darah,” ujar Steven.
Di sisi lain, Steven juga menyarankan beberapa jenis makanan yang dapat membantu menjaga kondisi tubuh sekaligus mendukung kerja obat selama puasa.
“Makanan kaya protein seperti telur, ikan, ayam, tahu, dan tempe dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama serta menjaga energi selama berpuasa,” jelasnya.
Selain itu, kurma juga menjadi pilihan yang baik untuk dikonsumsi saat berbuka maupun sahur.
Kurma mengandung karbohidrat kompleks yang mampu memberikan energi secara bertahap tanpa memicu lonjakan gula darah yang drastis.
“Buah kurma juga kaya serat dan mineral yang dibutuhkan tubuh selama puasa,” ungkapnya.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Steven menyarankan masyarakat untuk minum air putih secara bertahap mulai dari waktu berbuka hingga sahur agar terhindar dari dehidrasi.
“Dehidrasi ringan selama puasa bisa berdampak tidak langsung pada perjalanan obat di dalam tubuh,” imbuhnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika harus mengonsumsi obat selama Ramadan.
Terutama obat yang memiliki interval waktu ketat seperti antibiotik atau obat penyakit kronis.
“Konsultasi dengan dokter atau apoteker sangat penting agar jadwal dan dosis obat tetap aman. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa konsultasi karena bisa membahayakan kondisi kesehatan,” tegas Steven. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa