RADAR SURABAYA – Di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang, kabar membanggakan datang dari seorang pelajar muda asal Surabaya yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Adalah Hugo Maxwell Iago, siswa kelas IX SMP Kristen Petra 1 Surabaya, yang sukses menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Philippines International Math & Science Olympics (PIMSO) 2026 Final Round.
Kompetisi yang berlangsung pada 27 Februari hingga 2 Maret 2026 di Davao City, Filipina, tersebut mempertemukan pelajar terbaik dari berbagai negara dalam bidang matematika dan sains. Ajang ini dikenal memiliki standar soal berlevel tinggi dengan atmosfer kompetisi yang ketat.
Baca Juga: Hugo Maxwell Iago: Bukti Generasi Muda Indonesia Mampu Bersaing di Dunia
Di tengah tantangan tersebut, Hugo tampil luar biasa. Ia berhasil meraih Gold Medal sekaligus menyabet gelar 2nd Runner-Up pencapaian yang tidak hanya membanggakan dirinya dan keluarga, tetapi juga sekolah serta dunia pendidikan Indonesia.
Bagi Hugo, kompetisi ini bukan sekadar perlombaan angka dan rumus. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi perjalanan mental tentang keberanian menghadapi tantangan global, ketekunan dalam belajar, serta kepercayaan diri untuk berdiri sejajar dengan pelajar dari berbagai negara.
“Awalnya saya hanya ingin memberikan yang terbaik. Saat kompetisi berlangsung, saya mencoba tetap tenang dan fokus memahami setiap soal,” ujar Hugo kepada Radar Surabaya, Senin (9/3).
Putra pasangan Irwan Honggo dan Lily Sianto ini dikenal sebagai pribadi yang tenang dengan semangat belajar yang tinggi. Di balik pencapaiannya tersimpan proses panjang yang tidak terlihat mulai dari jam-jam latihan, diskusi soal, hingga ketekunan memahami konsep, bukan sekadar menghafal.
“Saya belajar bahwa matematika dan sains adalah bahasa universal. Kita bisa berbeda negara, tetapi memiliki cara berpikir yang sama dalam menyelesaikan masalah,” tambahnya.
Wali kelasnya, Erato Dido Evandra, menyebut Hugo sebagai sosok siswa yang konsisten, tekun, dan memiliki kedisiplinan belajar yang kuat.
“Sejak di kelas, Hugo memang menunjukkan minat besar pada matematika dan sains. Ia tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga ingin memahami proses berpikir di balik setiap soal,” ujar Erato.
Baca Juga: PPPK Petra Gelar Latihan Bersama Shorinji Kempo Surabaya, Bangun Karakter dan Mental Kenshi
Menurutnya, sikap tersebut menjadi salah satu kunci yang membuat Hugo mampu bersaing di level internasional.
Hal senada disampaikan Eva Zahora, Kepala SMP Kristen Petra 1 Surabaya. Ia menilai kebanggaan sekolah tidak hanya terletak pada prestasi akademik yang diraih Hugo, tetapi juga pada karakter yang ia tunjukkan.
“Yang membuat kami bangga bukan hanya prestasinya, tetapi juga kerendahan hatinya. Hugo tetap rendah hati, disiplin, dan selalu mau belajar. Itu kualitas yang sangat penting bagi seorang pelajar,” tuturnya.
Perjalanan menuju PIMSO 2026 pun tidak berlangsung instan. Hugo harus melewati berbagai tahap seleksi, pembinaan intensif, hingga simulasi kompetisi sebelum akhirnya dipercaya mewakili Indonesia dalam ajang internasional tersebut.
Saat babak final berlangsung di Davao City, tantangan tidak hanya datang dari kompleksitas soal, tetapi juga dari tekanan atmosfer kompetisi global. Peserta dari berbagai negara hadir dengan kemampuan terbaik mereka.
Namun di situlah Hugo justru menunjukkan kualitasnya. Dengan pendekatan analitis yang matang serta ketenangan dalam berpikir, ia mampu menyelesaikan soal-soal yang menuntut logika tingkat tinggi dan pemahaman konsep lintas disiplin.
Prestasi Gold Medal dan posisi 2nd Runner-Up yang diraihnya menjadi bukti bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing di panggung internasional, tidak hanya dalam kreativitas, tetapi juga dalam bidang sains dan matematika yang kerap dianggap paling menantang.
Bagi keluarganya, pencapaian ini merupakan buah dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin serta dukungan penuh dari orang tua.
“Sejak awal kami selalu menanamkan bahwa yang terpenting bukan menjadi juara, tetapi berani mencoba dan bertanggung jawab terhadap proses yang dijalani,” ungkap sang ayah, Irwan Honggo.
Hal senada disampaikan sang ibu, Lily Sianto. Menurutnya, orang tua hanya berusaha mendampingi dan memberi ruang agar Hugo dapat berkembang secara maksimal. “Prestasi ini adalah bonus dari kerja keras dan konsistensinya,” tuturnya.
Keikutsertaan Hugo dalam olimpiade internasional menjadi refleksi bahwa pendidikan masa kini tidak lagi berhenti pada nilai akademik semata, tetapi juga pada kesiapan menghadapi kompetisi global.
“Lebih dari sekadar medali, Hugo membawa pulang pengalaman berharga mulai dari berinteraksi dengan pelajar dari berbagai negara, memahami standar kompetisi internasional, hingga menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bagian dari generasi muda Indonesia,” jelas Irwan.
Prestasi ini menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa dimulai dari ruang kelas selama ada kemauan untuk belajar lebih dalam dan keberanian untuk melangkah lebih jauh. (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto