Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ahli Gizi Unair Surabaya Ingatkan Perubahan Hormon saat Ramadan Perlu Diimbangi Tidur yang Teratur

Rahmat Sudrajat • Kamis, 26 Februari 2026 | 15:04 WIB

 

SANTAI: Sejumlah siswa saat beristirahat dengan tidur siang. Pola tidur yang teratur menyebabkan tubuh lebih seimbang selama Ramadan.
SANTAI: Sejumlah siswa saat beristirahat dengan tidur siang. Pola tidur yang teratur menyebabkan tubuh lebih seimbang selama Ramadan.

RADAR SURABAYA - Bulan Ramadan seringkali mengubah aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari jadwal makan dan minum hingga waktu tidur yang bergeser.

Perubahan pola tidur ini ternyata dapat memberikan dampak luas terhadap kesehatan tubuh.

Menurut ahli gizi Lailatul Muniroh, perubahan pola tidur kerap terjadi saat memasuki bulan puasa, terutama pada kalangan mahasiswa.

"Perubahan tersebut terjadi karena adanya perubahan jam makan untuk sahur, peningkatan aktivitas malam seperti tarawih, tadarus, nongkrong, dan mengerjakan tugas. Kebiasaan begadang yang sudah ada juga menjadi faktor utama perubahan jam tidur," ujar Laila, Kamis (26/2).

Selain itu, ia menjelaskan bahwa selama puasa terjadi perubahan hormon kortisol dan melatonin yang memengaruhi kualitas tidur.

Kondisi ini akan semakin parah jika seseorang terus begadang hingga waktu sahur.

"Selain itu, saat puasa terjadi perubahan hormon kortisol dan melatonin yang juga mempengaruhi kualitas tidur. Hal ini juga dapat semakin parah apabila melakukan begadang sampai sahur. Akibatnya tidur menjadi lebih larut, durasi tidur berkurang, atau kualitas tidur terganggu," ungkap dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Perubahan pola tidur seperti begadang hingga sahur memiliki risiko memberikan dampak buruk seperti rasa kantuk di siang hari, penurunan konsentrasi, perubahan suasana hati, pusing, dan penurunan daya tahan tubuh.

Dalam jangka menengah, hal ini dapat mengganggu metabolisme, meningkatkan hormon stres, menyebabkan nafsu makan tidak terkontrol saat berbuka, kenaikan berat badan, serta mengganggu regulasi gula darah dan keseimbangan hormon lapar.

Laila juga menyoroti bahaya kelebihan jam tidur seperti tidur siang yang terlalu lama.
Menurutnya perubahan pola tidur juga berlaku pada kelebihan jam tidur seperti tidur siang terlalu lama.

"Hal ini dapat berdampak pusing saat bangun dan mengganggu pola tidur karena sulit tidur di malam hari. Terlalu banyak tidur juga menyebabkan metabolisme melambat, apalagi jika kurang aktivitas fisik, tubuh akan terasa lebih lemas," jelasnya.

Untuk menghindari pola tidur yang tidak teratur, ia menyarankan untuk tidur lebih awal dan menghindari aktivitas scrolling di perangkat elektronik sebelum tidur.

Hindari begadang tanpa alasan mendesak dan batasi waktu tidur siang hanya 20-30 menit untuk memulihkan energi.

Pembatasan konsumsi kafein saat berbuka menurutnya perlu dilakukan.

Selain itu perlu dilakukan aktivitas fisik di pagi hari, serta konsumsi makanan sahur yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi harian.

"Ramadan adalah momen belajar pengendalian diri, sekaligus melatih kedisiplinan hidup. Tidur yang teratur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi bagian dari menjaga tubuh. Jadikan ramadan sebagai bulan menata ritme hidup agar lebih seimbang, sehat, dan berkualitas. Karena ibadah yang optimal lahir dari tubuh yang sehat," pungkasnya. (rmt/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#lailatul muniroh #Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair #perubahan jam tidur #tidur saat ramadan #ahli gizi unair surabaya