Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Surabaya Bangun Pusat Edukasi Lingkungan di Taman Mozaik Wiyung

Nofilawati Anisa • Senin, 9 Februari 2026 | 17:00 WIB

 

DIMULAI: Surabaya bersiap menghadirkan sebuah pusat pembelajaran lingkungan terpadu yang menggabungkan edukasi pengelolaan sampah, konservasi alam, hingga pemahaman dampak perubahan iklim.
DIMULAI: Surabaya bersiap menghadirkan sebuah pusat pembelajaran lingkungan terpadu yang menggabungkan edukasi pengelolaan sampah, konservasi alam, hingga pemahaman dampak perubahan iklim.

RADAR SURABAYA - Kota Surabaya bersiap menghadirkan sebuah pusat pembelajaran lingkungan terpadu yang menggabungkan edukasi pengelolaan sampah, konservasi alam, hingga pemahaman dampak perubahan iklim.

Grand design telah disiapkan. Lokasi pun sudah ditentukan.

Fasilitas ini tidak hanya mengajarkan konsep reduce, reuse, dan recycle, tetapi juga mengenalkan ilmu sains tentang cuaca ekstrem dan kaitannya dengan kesehatan manusia.

Pusat edukasi lingkungan tersebut akan dibangun di kawasan Taman Mozaik, Jalan Wiyung Praja.

Ikon utamanya adalah sebuah Paviliun Edukasi Mozaik, bangunan berarsitektur ramah lingkungan dengan dinding bermotif warna-warni.

Kawasan ini dirancang sebagai ruang rekreasi edukatif, pusat konservasi, sekaligus paru-paru kota.

Pembangunannya merupakan hasil kolaborasi Rotary Club of Surabaya Kaliasin dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, serta berbagai pihak dilibatkan sebagai mentor dan pendamping program.

Salah satunya dr Paul Agus Dwiyanu, SpP, Pembina Yayasan Kabar Dokter Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Pembina PADI Medika Indonesia.

Dokter Paul menjelaskan, keterlibatan tenaga medis dan akademisi menjadi penting.

Mengingat isu lingkungan kini semakin erat kaitannya dengan persoalan kesehatan masyarakat.

“Perubahan iklim global telah berdampak nyata di tingkat lokal, termasuk di Surabaya,” ungkapnya, Senin (9/2).

Suhu udara yang terus meningkat, cuaca ekstrem, serta memburuknya kualitas lingkungan menjadi konsekuensi dari pemanasan global.

“Kondisi ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan warga,” sambungnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, urban heat island adalah fenomena suhu di kawasan perkotaan yang jauh lebih panas dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya. “Ini adalah salah satu dampak paling terasa,” tegasnya.

Padatnya bangunan beton, efek rumah kaca, minimnya ruang terbuka hijau, serta tingginya aktivitas kendaraan membuat suhu kota lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.

Situasi ini memicu risiko dehidrasi, kelelahan, hingga serangan panas, terutama bagi kelompok rentan.

Selain itu, peningkatan suhu dan polusi udara turut memengaruhi pola penyebaran penyakit.

Kondisi ini memicu masalah kesehatan utamanya pernafasan terhadap kelompok rentan.

Karena itu, upaya mitigasi dan adaptasi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak bagi kota besar seperti Surabaya.

“Perubahan iklim dan meningkatnya suhu kota merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Melalui penanaman pohon, penguatan ruang hijau, dan edukasi lingkungan, kita berupaya menekan dampak panas ekstrem sekaligus mencegah meningkatnya angka kesakitan dan kematian,” ujar dr. Paul yang juga konsultan proyek CoRHAP.

Pembangunan kawasan edukasi ini ditandai dengan peletakan batu pertama, Minggu (8/2).

Momentum tersebut sekaligus menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan kota.

Rohmawati, S.E. - Program Director Global Grant #2457789 mengatakan kawasan ini akan menjadi ruang belajar lintas generasi dan menjadi program yang berkelanjutan.

“Hari ini kami bersama Pemkot Surabaya melaksanakan kegiatan penanaman 500 pohon atau tanaman serta Peletakan Batu Pertama gedung Rotary Educational Park Learning Center di Taman Mozaik. Tempat ini bisa dieksplorasi anak cucu kita untuk belajar lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari program Global Grant #2457789 Rotary Club of Surabaya Kaliasin, dan Novato USA yang bertujuan membangun pusat pelatihan lingkungan bagi masyarakat.

Salah satu fokusnya adalah pengelolaan sampah dan pengembangan produk ramah lingkungan, seperti eco enzyme, yang sudah berjalan sejak Januari 2026.

“Sekarang di mana-mana banjir saat hujan lebat. Dengan adanya taman ini, oksigen bertambah, resapan air meningkat, dan lingkungan menjadi lebih seimbang,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Dedik Irianto, menegaskan, pengelolaan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, edukasi pemilahan sampah menjadi kunci utama perubahan perilaku masyarakat.

“Sampah ada dua jenis, organik dan anorganik. Keduanya harus dipahami cara pengolahannya. Gerakan mengolah sampah masih menjadi tantangan, sehingga perlu pendampingan berkelanjutan,” ujarnya.

Dedik juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan berkelanjutan.

“Pembangunan Surabaya tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, TNI-Polri, dan masyarakat harus terus diperkuat,” pungkasnya. (opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Kota Surabaya #Lingkungan #Edukasi #dinas lingkungan hidup #pusat pembelajaran #taman mozaik #konservasi alam #Pengelolaan Sampah #wiyung