Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tim Peneliti Universitas Ciputra Surabaya Ubah Limbah Cangkang Telur Jadi Kolagen Halal Bernilai Tinggi

Andy Satria • Sabtu, 7 Februari 2026 | 21:15 WIB

 

INOVASI: Tim peneliti dari Universitas Ciputra (UC) Surabaya, menunjukkan proses pembuatan kolagen halal dengan menggunakan limbah cangkang telur sebagai bahan utamanya, di kampus setempat.
INOVASI: Tim peneliti dari Universitas Ciputra (UC) Surabaya, menunjukkan proses pembuatan kolagen halal dengan menggunakan limbah cangkang telur sebagai bahan utamanya, di kampus setempat.

RADAR SURABAYA - Limbah cangkang telur yang selama ini kerap terbuang, kini diolah menjadi produk bernilai tinggi.

Tim peneliti Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ciputra (UC) Surabaya, mengembangkan inovasi pengolahan limbah cangkang telur menjadi kolagen halal yang berpotensi dimanfaatkan di berbagai sektor industri.

Ketua Tim Peneliti, Joko Sulistyo, mengatakan cangkang telur menyimpan potensi besar yang belum banyak dimanfaatkan.

Dari hasil riset, bagian membran tipis di dalam cangkang telur diketahui mengandung kolagen egg shell membrane (ESM) dengan manfaat luas.

“Limbah cangkang telur ini sangat mudah ditemukan. Setelah diteliti, ternyata mengandung kolagen ESM yang manfaatnya luar biasa dan dapat menjadi alternatif pengganti kolagen impor,” ujar Joko, Jumat (6/2).

Penelitian ini melibatkan dosen Teknologi Pangan UC Surabaya, yang didukung mahasiswa, serta laboran Teknologi Pangan.

Joko menjelaskan, kolagen dari membran cangkang telur memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari ketersediaan bahan baku yang melimpah, biaya produksi yang lebih terjangkau, hingga aspek kehalalan yang jelas.

“Kolagen ini tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk bahan pangan, tetapi juga berpotensi digunakan di bidang farmasi, kosmetik, suplemen kesehatan, bahkan ke depan untuk aplikasi medis,” katanya.

Sementara itu, mahasiswa UC Surabaya, Belinda Manuela Angkadjaja, menjelaskan proses pembuatan kolagen dimulai dari perendaman dan pembersihan cangkang telur selama semalam.

Setelah itu, dilakukan pemisahan antara membran dan bagian cangkang yang keras.

“Membran yang sudah dipisahkan kemudian dicuci bersih, dikeringkan di oven selama dua jam pada suhu sekitar 40 derajat Celsius, lalu diblender hingga halus,” jelasnya.

Tahapan berikutnya adalah proses ekstraksi menggunakan larutan buffer dan enzim pepsin yang didiamkan selama satu hingga dua malam. Setelah itu, dilakukan pemisahan antara cairan dan endapan.

“Endapan tersebut kemudian dikeringkan dengan suhu dingin sekitar minus 40 hingga minus 50 derajat Celsius selama tiga hari, hingga menjadi kolagen kering yang siap diolah,” tambah Belinda.

Dari proses tersebut, sekitar 20 persen kolagen dapat dihasilkan dari total bahan baku cangkang telur yang digunakan.

Tidak hanya membrannya, bagian cangkang telur yang keras juga dimanfaatkan menjadi bubuk kaya kalsium.

“Bubuk kalsium ini bisa digunakan sebagai bahan penguat bioplastik ramah lingkungan agar lebih kokoh,” ujarnya.

Saat ini, tim peneliti telah menjalin komunikasi dengan industri kosmetik yang tertarik memanfaatkan kolagen ESM sebagai bahan baku produk perawatan kulit, seperti pelembap dan krim wajah.

Rencana kerja sama teknis ditargetkan mulai berjalan pada 2026, seiring masuknya riset ini ke tahap pengembangan komersial. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#kolagen #inovasi #Cangkang Telur #Universitas Ciputra Surabaya #limbah