RADAR SURABAYA - Pemenang MLBB Goes to School dan Teacher Ambassador (TA) asal Surabaya hadir dalam ajang M7 World Championship di Jakarta.
Hal ini menjadi bukti perubahan besar dalam dunia gim Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) yang tak lagi sekadar hiburan, tetapi telah dimanfaatkan sebagai media edukasi karakter bagi siswa SD dan SMP.
Program yang digagas untuk mematahkan stigma negatif terhadap gim seluler.
Di Surabaya, MLBB justru menjadi sarana membangun komunikasi antara guru dan siswa, sekaligus menanamkan nilai-nilai positif melalui pendekatan yang dekat dengan dunia anak-anak.
Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, Erina Tan, mengatakan, tujuan utama program ini bukan mencetak pemain profesional, melainkan membentuk karakter dan soft skill siswa.
“Fokus kami bukan menjadikan semua anak atlet esport. Lewat gim, anak belajar menerima kekalahan, bekerja sama dalam tim, dan merayakan kemenangan tanpa berlebihan. Nilai-nilai ini penting untuk kehidupan nyata,” ujar Erina melalui keterangannya, Minggu (25/1).
Menurut Erina, peran guru menjadi kunci keberhasilan program ini.
Melalui program Teacher Ambassador, gim digunakan sebagai bahasa bersama antara pendidik dan siswa.
Guru dibekali materi untuk menanamkan prinsip Pray, Respect, Peace Out, yakni berdoa sebelum bermain, saling menghormati, dan menghindari perilaku negatif saat bermain gim.
Respons tenaga pendidik di Surabaya pun sangat positif. Dari awalnya hanya melibatkan sekitar 50 guru, kini komunitas Teacher Ambassador telah berkembang menjadi 328 guru yang aktif mendampingi siswa agar bermain gim secara sehat dan bertanggung jawab.
Keberhasilan Surabaya sebagai proyek percontohan tak lepas dari dukungan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya.
Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, menilai pelarangan gawai bukan solusi di era digital.
“Anak-anak sekarang tidak bisa lepas dari handphone. Karena itu, mereka tidak cukup dilarang, tetapi harus didampingi. Tanpa pendampingan, hasilnya justru tidak baik,” kata Febrina.
Ia menambahkan, MLBB menjadi pintu masuk bagi guru untuk memahami dunia siswa.
Melalui program ini, guru dapat memantau perilaku anak dan mengarahkan penggunaan gawai secara bijak.
“Yang kami ambil bukan sekadar cara bermain gimnya, tetapi pembelajaran emosi, kerja sama, dan pengendalian diri. Itu yang penting,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jatim, Hadi Wawan, mengapresiasi tema program yang menekankan keseimbangan antara pendidikan dan hobi.
“Tagline-nya tepat, belajar dulu, baru mabar. Anak-anak tetap harus memprioritaskan sekolah, tetapi juga diberi ruang untuk menyalurkan minatnya secara positif,” ungkap Hadi.
Ia menilai kehadiran siswa dan guru di ajang M7 World Championship memberi pengalaman berharga.
Melihat langsung panggung esport dunia diharapkan dapat memotivasi siswa untuk berprestasi dengan disiplin dan tanggung jawab. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa