RADAR SURABAYA - Paparan mikroplastik kembali terdeteksi di sejumlah titik wilayah perkotaan, dengan jenis fiber yang paling dominan. Mikroplastik jenis ini umumnya berasal dari serat tekstil sintetis, limbah cucian, serta aktivitas domestik masyarakat. Dominasi fiber hampir selalu muncul dalam setiap riset mikroplastik di wilayah perkotaan dan permukiman padat.
Kepala Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Rafika Aprilianti, menjelaskan sumber utama dari jenis mikroplastik tersebut. "Fiber ini paling banyak berasal dari aktivitas harian seperti mencuci pakaian. Serat-serat sintetis lepas, masuk ke saluran air, lalu bermuara ke sungai dan lingkungan sekitar," ujar Rafika, Selasa (20/1).
Temuan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan menjadi sinyal bahaya bagi keberlanjutan lingkungan dan kesehatan manusia. "Mikroplastik tidak hanya berhenti di air. Juga masuk ke rantai makanan, dimakan ikan, lalu kembali ke tubuh manusia. Ini ancaman jangka panjang yang sering dianggap sepele," kata Founder Ecoton, Prigi Arisandi.
Sementara itu, peneliti senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menilai faktor utama tingginya temuan mikroplastik, salah satunya di Surabaya dan beberapa wilayah lainnya adalah lemahnya pengelolaan limbah domestik.
"Selama sistem pengolahan air limbah rumah tangga belum dibenahi secara serius, maka mikroplastik akan terus mengalir bebas ke lingkungan," ujarnya.
Menurutnya temuan ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk memperketat pengelolaan limbah, meningkatkan sistem pengolahan air limbah domestik, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. (*)
Editor : Lambertus Hurek