RADAR SURABAYA - Munculnya kasus komplikasi penyakit kulit akibat ulah dokter abal-abal, membuat prihatin Perdoski Cabang Surabaya.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia itu pun tak lelah untuk terus melakukan edukasi kepada masyarakat supaya kasus serupa tidak bertambah.
Seperti yang mereka lakukan di Taman Bungkul Surabaya, Minggu (11/1), puluhan dokter spesialis kulit dan kelamin yang tergabung di Perdoski Cabang Surabaya, dengan telaten memberikan konsultasi gratis.
Layanan ini pun dimanfaatkan dengan baik oleh warga Surabaya maupun yang datang dari luar kota, seperti Sidoarjo, Gresik, hingga Makassar.
Ketua Perdoski Cabang Surabaya, Dr. dr. Linda Astari, Sp.D.V.E.Subsp.D.T., FINSDV., FAADV, mengatakan, kegiatan edukasi ini menjadi bagian dari perayaan enam dekade usia mereka.
“Kami hari ini mengadakan berbagai macam kegiatan dalam rangka perayaan usia Perdoski yang ke-60. Mulai senam hingga memberikan konsultasi kulit kelamin dan estetika secara gratis,” kata dr. Linda.
Lebih jauh ia menjelaskan, tema perayaan enam dekade ini adalah Bersatu, Berkembang, dan Berkarya untuk Indonesia Emas.
Melalui tema ini, Perdoski terus berupaya untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat.
“Supaya masyarakat semakin tahu, dokter kulit yang bagaimana yang tergabung di organisasi Perdoski. Kami adalah organisasi resmi yang menaungi dokter spesialis dermatologi, venereologi dan estetika,” jelasnya.
Lebih jauh dr. Linda mengatakan, Perdoski berharap menjadi rujukan profesional di bidang kesehatan kulit, kelamin dan estetika yang terpercaya dan selalu dicari masyarakat.
“Bukan dokter abal-abal seperti yang sekarang ini banyak bermunculan. Sekarang banyak klinik yang tidak berizin, banyak beredar skincare ilegal,” prihatinnya.
Dokter Linda mengungkapkan jika Perdoski Cabang Surabaya yang anggotanya sudah lebih dari 300 orang, ingin terus berkembang dan melahirkan inovasi di bidang pelayanan kesehatan kulit, kelamin, dan esteteika.
“Kami ingin terus berkarya memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat luas,” tegasnya.
Dengan memberikan kontribusi yang nyata, lanjut dr. Linda, maka masyarakat akan mandapatkan informasi yang benar terkait pelayanan kesehatan kulit, kelamin, dan estetika.
“Kami prihatin ketika ada pasien komplikasi di dokter abal-abal terus ujung-ujungnya larinya ke kami. Itu karena keterbatasan pengetahuan maupun informasi yang mereka miliki,” ungkapnya.
Diakui dr. Linda, masyarakat kadang-kadang tahunya dokter estetik tapi tidak tahu dokter spesialis kulit itu yang seperti apa.
“Kami punya kewajiban moral untuk memberikan edukasi yang sebenarnya ke masyarakat,” ujarnya.
Selain melakukan edukasi, dr. Linda menyebut jika Perdoksi Cabang Surabaya juga dilibatkan oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya jika ada klinik kecantikan atau estetika mengurus maupun memperpanjang izin usahanya.
“Perdoski tidak punya wewenang untuk monitoring mereka (klinik kecantikan maupun estetika, Red). Tap kami selalu dilibatkan oleh dinas kesehatan untuk memberikan review,” pungkasnya. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa