Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Seporsi Ibadah dari Jalan Kalimas Udik Surabaya: Kebiasaan Berbagi Makan Siang untuk Sesama

Dimas Mahendra • Kamis, 8 Januari 2026 | 15:20 WIB
BERBAGI: Warga mengantre untuk mendapatkan makan siang di kawasan Jalan Kalimas Udik 1C, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya.
BERBAGI: Warga mengantre untuk mendapatkan makan siang di kawasan Jalan Kalimas Udik 1C, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya.

RADAR SURABAYA - Menjelang tengah hari, suasana hangat tampak di kawasan Jalan Kalimas Udik 1C, Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya. Tepat sebelum jarum jam menunjukkan pukul 12.00, sejumlah warga mulai berdatangan.

Mereka mengantre dengan tertib, sebagian harus menahan terik matahari. Yang ditunggu bukan bantuan besar, melainkan seporsi makan siang sederhana yang sarat makna.

Rutinitas itu telah dijalani Hj May selama tiga hingga empat tahun terakhir. Tanpa banyak sorotan, ia konsisten membagikan makanan gratis bagi siapa pun yang membutuhkan. Berawal dari keprihatinan melihat kondisi lingkungan sekitar, Hj May memilih berbagi melalui cara paling sederhana: memberi makan orang lapar.

BERKAH: Mulai pukul 12.00 hingga 12.30, tak kurang dari 100 porsi makanan habis dibagikan.
BERKAH: Mulai pukul 12.00 hingga 12.30, tak kurang dari 100 porsi makanan habis dibagikan.

“Di lingkungan sekitar masih banyak yang membutuhkan. Dalam Islam, pahala memberi makan orang lapar itu sangat besar,” ujar Hj May dengan nada tenang.

Setiap hari, sejak pukul 07.00, ia memulai aktivitas dengan berbelanja bahan makanan. Menu dipilih dan dimasak sendiri di rumah, dibantu asisten rumah tangganya. Menjelang siang, seluruh hidangan telah siap untuk dibagikan.

Dalam kurun waktu sekitar setengah jam, mulai pukul 12.00 hingga 12.30, tak kurang dari 100 porsi makanan habis dibagikan. Penerimanya beragam, mulai dari warga sekitar, teman, hingga masyarakat dari luar kawasan Jalan Panggung. Tidak ada syarat khusus, tidak pula pendataan.

RUTIN: Proses penyajian makanan yang akan dibagikan ke warga.
RUTIN: Proses penyajian makanan yang akan dibagikan ke warga.

“Siapa saja boleh. Yang penting membutuhkan,” kata Hj. May.

Seluruh biaya berasal dari dana pribadinya. Meski demikian, ia mengaku tak pernah merasa terbebani, baik secara tenaga maupun finansial.

“Alhamdulillah, semuanya terasa dimudahkan,” ujarnya.

Baca Juga: DPRD Surabaya Sebut Program Dandan Omah Pemkot Masih Belum Merata 

Respons warga pun sangat positif. Selain antusias, sebagian warga bahkan turut membantu membagikan makanan saat waktu makan siang tiba. Kebersamaan tumbuh dengan sendirinya, tanpa instruksi ataupun paksaan.

Bagi Hj May, momen paling menyentuh adalah ketika melihat warga rela mengantre di bawah panas matahari demi seporsi makan siang. Dari situ ia menyadari betapa berharganya makanan sederhana bagi mereka yang membutuhkan.

“Artinya luar biasa,” ucapnya pelan.

Meski begitu, Hj May tetap merendah. Baginya, apa yang dilakukan bukanlah sesuatu yang istimewa.

“Ini semata-mata ibadah,” tuturnya.

Ia berharap kebiasaan berbagi tersebut dapat terus berlanjut dan kelak diteruskan oleh anak-cucunya. Pesan yang ia sampaikan pun sederhana.

“Bismillah, belajar berbagi,” katanya.

Jika harus merangkum makna dari rutinitas yang dijalaninya, Hj. May tak ragu mengungkapkan satu kalimat. “Berbagi adalah ibadah.”

Di tengah hiruk-pikuk kota dan kesibukan masing-masing, apa yang dilakukan Hj May menjadi pengingat bahwa kemanusiaan kerap tumbuh dari dapur kecil dan niat yang tulus. Di Jalan Panggung, seporsi makanan sederhana telah menjelma menjadi seporsi harapan. (dim/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#siang #makanan #makan #gratis #kalimas