Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Anak Muda Pesisir Enggan Melaut, Regenerasi Nelayan Terancam, Hasil Tangkapan Minim, Pendapatan Berkurang

Indra Wijayanto • Jumat, 19 Desember 2025 | 22:39 WIB
SEPI AKTIVITAS: Perahu-perahu di kawasan pesisir Kenjeran yang tidak berlayar kemarin (18/12). (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)
SEPI AKTIVITAS: Perahu-perahu di kawasan pesisir Kenjeran yang tidak berlayar kemarin (18/12). (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)

RADAR SURABAYA – Profesi nelayan di kawasan pesisir Surabaya terancam tanpa penerus. Generasi muda makin enggan turun ke laut karena pendapatan yang tidak menentu dan pekerjaan yang dinilai berat. Nelayan aktif pun kini didominasi usia senja, sementara regenerasi nyaris terputus.

Lebih Memilih Bekerja di Darat

Sholihin, nelayan di pesisir Kecamatan Bulak, menyebut bahwa anak muda saat ini lebih memilih bekerja di darat karena dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.

”Jadi sekarang jarang sekali anak muda yang mau melaut,” katanya kemarin (18/12).

PIKIR-PIKIR: Anak-anak muda pesisir mulai enggan meneruskan jejak orang tua sebagai nelayan. (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)
PIKIR-PIKIR: Anak-anak muda pesisir mulai enggan meneruskan jejak orang tua sebagai nelayan. (PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS)

Pendapatan nelayan juga dinilai tidak lagi seperti puluhan tahun lalu. Jika sebelumnya ikan mudah didapat dan dipasarkan, kini hasil tangkapan terbatas dengan harga jual rendah.

”Kalau dulu ikannya banyak, jualnya juga gampang,” sambungnya. Sedangkan untuk saat ini, sekali melaut, nelayan kadang pulang tanpa hasil.

Pendidikan formal turut menggeser minat anak pesisir. Program pemerintah mendorong lulusan sekolah mencari pekerjaan di darat, bukan meneruskan tradisi keluarga di laut. Sholihin bercerita, pada era 1980-an, banyak anak pesisir yang setelah lulus sekolah dasar langsung melaut.

”Pokoknya dulu habis lulus SD langsung ke laut ikut orang tua,” ujarnya. Dirinya sendiri mulai melaut sejak lulus SD hingga kini memiliki empat anak.

Namun, kondisi itu tidak lagi terjadi pada generasi saat ini. Anaknya yang lulus SMK pun memilih bekerja di darat setelah mencoba melaut dan merasakan beratnya pekerjaan nelayan dengan hasil yang tidak menentu.

”Anak-anak sekarang lebih milih sekolah, terus cari kerja di darat,” ungkapnya.

Didominasi Lansia

Komunitas pemuda pesisir yang dulu menjadi wadah regenerasi pun melemah. Organisasi itu kini bergeser menjadi karang taruna tanpa aktivitas kelautan. Nelayan aktif rata-rata berusia 50–70 tahun, bahkan yang termuda di atas 30.

”Yang muda di bawah 30 hampir tidak ada,” katanya.

Hal serupa disampaikan nelayan asal Nambangan, Abdul Jamil. Dia menyebut jumlah nelayan muda saat ini sangat terbatas dan didominasi usia 40 ke atas. Mereka yang masih melaut karena tidak melanjutkan pendidikan formal dan tidak memiliki alternatif pekerjaan lain.

”Kalau masih ada pilihan, mereka nggak mau ke laut,” katanya. Menurutnya, faktor ketidakpastian pendapatan serta kewajiban menjaga perahu siang dan malam saat cuaca buruk membuat profesi ini makin dijauhi generasi muda. (dho/ama/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#anak muda #pesisir #Tangkapan #pendapatan #nelayan