RADAR SURABAYA – Ratusan nelayan di pesisir Kenjeran semakin kesulitan untuk melaut sepekan terakhir. Mereka harus melewati lumpur tebal hingga selutut untuk menjangkau perahu. Para nelayan berharap ada pembukaan akses di dekat pantai batu-batu agar lebih memudahkan nelayan untuk melaut.
Ketua Kelompok Nelayan Nangkar wilayah Bulak Kali Tinjang Imam Santoso menjelaskan, nelayan yang terdampak berasal dari Kejawan dua kelompok dengan total anggota 200 orang, Bulak Kali Tinjang 35 orang, dan Cumpat dua kelompok 300 orang.
”Kami laporan ke RT setempat supaya dibuatkan pintu saja kalau akses tidak bisa dibuka seutuhnya. RT juga seorang nelayan kebetulan,” jelas Imam.
Imam menjelaskan, sepanjang [antai Kenjeran penuh lumpur. Perahu nelayan hanya bisa berlayar melalui empat pintu yang ditutup itu. Itupun jika kondisi air pasang. Bahkan saat laut surut, berlayar dari empat pintu masih sukar dilakukan.
”Tinggi lumpur di laut itu sampai lutut orang dewasa. Kalau pintu ditutup angkut hasil laut ya susah,” urainya.
Sebagian nelayan nekat melaut meskipun harus melewati jalan berlumpur setinggi lutut orang dewasa sepanjang 2 kilometer. Air laut di Kenjeran terpantau surut. Hanya ada waktu 3 jam sampai 5 jam air pasang. Akibatnya nelayan yang nekat melaut harus jalan kaki di area berlumpur untuk mengangkut hasil tangkapan ke tepian.
Imam menyampaikan, hanya ada sedikit nelayan yang nekat melaut. Sisanya lebih banyak libur karena kondisi yang tidak memungkinkan.
”Daripada perahu terjebak di lumpur, lebih susah lagi nanti,” tegas dia.
Para nelayan telah mengadukan persoalan penutupan akses untuk melaut itu ke kecamatan dan kelurahan. Mereka tidak ingin merusak pintu itu karena khawatir disanksi pidana. ”Ada takutnya juga kalau dianggap merusak,” tuturnya.
Baca Juga: Beredar Video Dugaan Pungli, DPRD Minta Pemkot Surabaya Bersihkan Satpol PP dari Praktik Ilegal
Harianto, nelayan Bulak Kali Tinjang menjelaskan, selama ini yang membersihkan rumput liar di bebatuan pinggir pantai adalah nelayan dan pedagang setempat. Tujuannya agar tidak ada muda-mudi nakal yang mangkal di pinggiran pantai. Selain itu, kondisi pinggir pantai lebih mudah dilihat dari jalan raya.
”Semua masyarakat bisa membantu mengawasi lokasi,” jelas dia.
Dia menyebutkan jalanan yang sepi justru memicu kejadian begal lebih tinggi. ”Selagi jalan ramai saja banyak begal, apalagi sepi. Logika macam apa itu,” tuturnya kesal.
Camat Bulak Hudaya menjelaskan empat pintu pinggir pantai Kenjeran yang ditutup bukan akses nelayan. Ada pintu lain yang biasa digunakan oleh nelayan di daerah Kejawan Lor. Penutupan pintu itu karena sering ada parkir liar di sepanjang jalan. Bahkan lokasi pintu kerap dijadikan tempat mesum. Kebijakan penutupan pintu merupakan wewenang Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya.
Hanya ada sedikit warga Bulak Kali Tinjang yang berprofesi sebagai nelayan. Hudaya menduga kuat kelompok nelayan yang ngotot pintu dibuka berkaitan dengan parkir liar. ”Saya pastikan dulu, siapa yang minta pintu dibuka,” tegasnya. (ida/jun/vga)
Editor : Vega Dwi Arista